Growthmates, bangun tidur seharusnya membuat tubuh terasa segar dan siap menjalani aktivitas. Namun, tidak sedikit orang yang justru merasakan nyeri di berbagai bagian tubuh saat baru membuka mata di pagi hari. Mulai dari leher yang kaku, pinggang pegal, hingga tumit yang terasa sakit saat pertama kali menapak lantai.
Menurut Dokter Spesialis Orthopedi, dr. Asa Ibrahim, Sp.OT, kondisi ini umumnya berkaitan dengan posisi tidur yang kurang tepat, kualitas kasur dan bantal yang sudah tidak mendukung tubuh dengan baik, hingga aktivitas berlebihan pada hari sebelumnya.
Dikatakan dr. Asa, salah satu keluhan yang paling sering dialami adalah nyeri leher atau neck strain saat bangun tidur.
Menurut dr. Asa, penyebabnya sering kali berasal dari posisi bantal yang tidak mampu menopang lekukan alami leher dengan baik selama tidur.
"Yang paling sering adalah nyeri leher saat bangun tidur. Biasanya karena posisi bantal yang kurang baik. Pastikan lengkungan leher tersupport dengan baik saat tidur," beber dr. Asa, dikutip dari laman Instagram pribadinya, Selasa (22/6/2026).
Ketika leher tidak mendapatkan penyangga yang tepat, lanjut dr. Asa, otot dan sendi di area tersebut dapat mengalami ketegangan sepanjang malam sehingga menimbulkan rasa nyeri atau kaku saat bangun.
Selain leher, kata dr. Asa, nyeri pinggang juga menjadi keluhan yang cukup umum. Faktor penyebabnya tidak jauh berbeda, yaitu kualitas bantal, kasur, dan sistem penyangga tulang belakang saat tidur.
Menurut dr. Asa, posisi tidur telentang maupun miring harus tetap mampu menjaga postur alami tulang belakang agar tidak terjadi tekanan berlebih pada area pinggang.
"Pastikan support tulang belakang dan pinggang saat tidur, baik telentang maupun miring, berada dalam posisi yang baik," katanya.
Kemudian, dr. Asa juga mengingatkan agar tidak mengabaikan kondisi kasur yang sudah tua atau melengkung.
"Kasur yang kondisinya sudah tidak bagus hingga melengkung dapat menyebabkan tarikan berlebih pada otot dan tulang belakang, sehingga memicu nyeri punggung saat bangun tidur," jelas dr. Asa.
Baca Juga: Waspada Saraf Kejepit! Dokter Orthopedi Beberkan Gejala, Penyebab, dan Cara Mencegahnya
dr. Asa memaparkan bahwa keluhan lain yang cukup sering terjadi adalah rasa sakit di sekitar tumit atau telapak kaki saat pertama kali menginjak lantai setelah bangun tidur.
Menurut dr. Asa, kondisi ini dapat disebabkan oleh beberapa gangguan pada jaringan penyangga kaki, seperti plantar fasciitis maupun Achilles tendinitis.
"Kalau tumit atau telapak kaki terasa sakit saat pertama kali dipijakkan setelah bangun tidur, yang sering ditemukan adalah plantar fasciitis atau Achilles tendinitis," ungkapnya.
Adapun, kata dia, beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko kondisi tersebut antara lain aktivitas fisik yang berlebihan, terlalu lama berdiri, hingga terlalu banyak berjalan dalam keseharian.
Tak hanya rasa nyeri, kata dr. Asa, sebagian orang juga mengeluhkan tubuh yang tetap lemas dan tidak berenergi meskipun sudah tidur semalaman.
Menurutmya, salah satu faktor yang sering berperan adalah kebiasaan menggunakan gadget sebelum tidur. Paparan cahaya dari layar ponsel atau perangkat elektronik dapat mengganggu kualitas tidur sehingga tubuh tidak mendapatkan istirahat yang optimal.
"Kalau bangun tidur kok malah lemas dan tidak ada semangat, salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah paparan gadget sebelum tidur," kata dr. Asa.
“Selain itu, kurang tidur, kualitas tidur yang buruk, stres, hingga pola hidup yang tidak sehat juga dapat memengaruhi kondisi tubuh saat bangun di pagi hari,” lanjut dr. Asa
Nah Growthmates, meski sebagian besar keluhan saat bangun tidur dapat membaik dengan memperbaiki posisi tidur dan kualitas istirahat, dr. Asa mengingatkan agar tidak mengabaikan nyeri yang berlangsung terus-menerus atau semakin berat.
“Jika keluhan tidak kunjung membaik, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai gejala lain seperti kesemutan dan kelemahan anggota tubuh, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut,” tandanya.
Baca Juga: Benarkah Tinggi Badan Berhenti di Usia 20? Ini Penjelasan Medisnya