Growthmates, bagi profesional muda di kota besar, pulang ke tempat tinggal idealnya menjadi penanda bahwa aktivitas kerja telah berakhir.

Namun, kenyataannya, waktu istirahat kerap masih diisi dengan berbagai urusan domestik, mulai dari merapikan ruangan, mencuci pakaian, hingga menyiapkan makan malam.

Beban-beban kecil tersebut tak jarang justru menguras energi yang seharusnya digunakan untuk beristirahat.

Situasi ini ikut mendorong munculnya tren soft living di kalangan anak muda sebagai respons terhadap budaya hustle culture.

Jika slow living lebih menekankan pada memperlambat ritme kehidupan, soft living menawarkan pendekatan yang berbeda, yakni meminimalkan sumber stres dan mengutamakan efisiensi agar seseorang tetap dapat menjalani kehidupan yang seimbang di tengah dinamika perkotaan.

Bagi generasi muda, kesuksesan kini tak lagi semata-mata diukur dari seberapa padat aktivitas atau panjangnya jam kerja.

Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance), kualitas istirahat, serta ketenangan pikiran mulai menjadi bagian penting dalam menentukan kualitas hidup.

Pergeseran cara pandang ini pun ikut memengaruhi bagaimana mereka memilih hunian.

Hunian Tak Lagi Sekadar Tempat Tidur

Selama beberapa tahun terakhir, hustle culture kerap mengaitkan kesibukan dengan produktivitas dan keberhasilan.

Kondisi tersebut semakin kompleks bagi pekerja dengan sistem hybrid maupun remote working, ketika ruang kerja dan ruang pribadi berada di tempat yang sama.

Dalam kondisi tersebut, rumah atau tempat tinggal tidak lagi sekadar menjadi tempat untuk tidur setelah seharian bekerja.

Hunian mulai dipandang sebagai safe haven, yakni ruang yang mampu memberikan rasa nyaman, praktis, sekaligus membantu penghuni melepaskan diri dari tekanan rutinitas.

Konsep soft living kemudian mendorong anak muda untuk lebih selektif dalam menentukan tempat tinggal.

Mereka tidak hanya mempertimbangkan harga dan lokasi, tetapi juga mencari hunian yang dapat mengurangi pekerjaan domestik, menyediakan ruang untuk bersosialisasi maupun beristirahat, serta mendukung gaya hidup yang lebih seimbang.

Melihat perubahan kebutuhan tersebut, Rukita menghadirkan Rukita Deluxe, tipe hunian coliving eksklusif dengan konsep fully furnished yang dirancang menyerupai apartemen modern.

Konsep ini mengedepankan kenyamanan dan kepraktisan agar penghuni dapat mengalokasikan lebih banyak waktu untuk aktivitas yang mereka sukai.

“Di tengah tuntutan mobilitas yang cepat, bentuk soft living paling sederhana adalah memiliki tempat tinggal yang membuat seseorang tidak perlu memikirkan rumitnya urusan domestik setelah lelah bekerja. Rukita Deluxe hadir memastikan para penghuni bisa menikmati hidup yang lebih berkualitas lewat fasilitas yang terintegrasi dan personal,” ungkap VP Marketing Rukita, Lika Aprilia Samiadi, dikutip dari keterangan resminya, Minggu (16/8/2026).

Baca Juga: Rukita: Coliving Premium Baru di Cipete Catat Okupansi Penuh dalam Sebulan!