Selama puluhan tahun, Sariwangi bukan sekadar merek teh, melainkan telah menjadi bagian dari ritual keseharian masyarakat Indonesia.

Dari dapur rumah tangga hingga ruang rapat perkantoran, teh celup Sariwangi mengubah cara orang menikmati teh, jadi lebih praktis, lebih cepat, dan pada akhirnya menjelma menjadi kebiasaan massal lintas generasi. Inovasi sederhana ini mengantarkan Sariwangi menjadi simbol kepraktisan sekaligus ikon konsumsi teh modern di Tanah Air.

Kini, setelah lebih dari tiga dekade berada di bawah naungan PT Unilever Indonesia Tbk, merek legendaris tersebut kembali membuka lembaran baru. Kepemilikan Sariwangi resmi berpindah ke Grup Djarum melalui entitas makanan dan minuman, Savoria Kreasi Rasa, menandai babak penting dalam perjalanan panjangnya.

Lantas, seperti apa sejarah merek teh Sariwangi yang mengalami gonta-ganti pemilik dari masa ke masa? Dikutip dari berbagai sumber, Jumat (9/1/2026), berikut ulasan Olenka selengkapnya.

Awal Berdiri dan Lahirnya Inovasi Teh Celup

Dikutip dari Kompas.com, sejarah Sariwangi bermula pada 1962 melalui pendirian PT Sariwangi Agricultural Estate Agency (SAEA). Pada awalnya, perusahaan ini bergerak sebagai pedagang komoditas teh sebelum berkembang ke sektor produksi, termasuk proses pencampuran (blending) dan pengemasan.

Adapun, mengutip Wikipedia, tonggak penting terjadi pada 1964 ketika Johan Alexander Supit, pengusaha asal Tondano, secara resmi mendirikan PT Sariwangi.

Berbekal pengalaman bekerja di perusahaan teh internasional seperti Peek, Frean & Co. Ltd dan Joseph Tetley & Company, Johan membawa teknologi pengemasan teh celup ke Indonesia. Inovasi ini bukan sekadar produk baru, melainkan mengubah kebiasaan konsumsi teh masyarakat Indonesia dan mengantarkan Sariwangi menjadi merek yang dikenal luas di pasar domestik.

Dikutip dari Detik.com, kehadiran teh celup pun menjadi terobosan besar yang mengubah kebiasaan masyarakat Indonesia yang sebelumnya menyeduh teh daun lepas. Inovasi ini mulai dipasarkan secara luas pada awal 1970-an dan langsung mendapat sambutan positif karena menawarkan kepraktisan.

Dominasi Pasar dan Ekspansi Besar-Besaran

Dikutip dari Kompas.com, kesuksesan teh celup membuat Sariwangi mendominasi pasar teh nasional selama hampir dua dekade.

Skala usaha perusahaan terus membesar, dengan volume penjualan yang pada periode tertentu mencapai sekitar 46.000 ton per tahun serta kapasitas produksi hingga jutaan kantong teh.

Bahkan pada 1985, mengutip Bisnis.com, Sariwangi telah menembus pasar ekspor dengan mengirimkan produknya ke Amerika Serikat, Australia, Inggris, kawasan Timur Tengah, hingga Rusia. Pertumbuhan pesat inilah yang kemudian menarik perhatian perusahaan multinasional.

Akuisisi Unilever dan Pemisahan Bisnis

Dikutip dari Kompas.com, popularitas dan kekuatan merek Sariwangi kemudian menarik minat PT Unilever Indonesia Tbk. Pada 1989, Unilever secara resmi mengakuisisi hak merek Sariwangi dan memasukkannya ke dalam portofolio produk fast-moving consumer goods (FMCG).

Sejak saat itu, produksi teh celup Sariwangi dilakukan di fasilitas Unilever di Cikarang, Jawa Barat, serta melalui pabrik pihak ketiga. Sementara itu, PT Sariwangi Agricultural Estate Agency tetap beroperasi secara terpisah, menjalankan bisnis perdagangan, produksi, dan pengemasan teh di luar merek Sariwangi.

Setelah akuisisi, Unilever masih mengambil pasokan teh dari PT Sariwangi Agricultural Estate Agency. Sementara itu, PT Sariwangi AEA tetap beroperasi secara terpisah, menjalankan bisnis perdagangan, produksi, dan perkebunan teh di luar merek Sariwangi, sebagaimana dikutip dari Detik.com.

Produksi teh Sariwangi pun kemudian dilakukan di fasilitas Unilever di Cikarang, Jawa Barat, serta melalui pabrik pihak ketiga, sementara Unilever memegang kendali penuh atas pemasaran dan pengembangan merek.

Baca Juga: Unilever Jual Bisnis Teh SariWangi ke Djarum Group, Kantongi Nilai Rp1,5 Triliun

Ambisi Hulu dan Krisis Keuangan

Mengutip Kompas.com, dana hasil penjualan merek kepada Unilever dimanfaatkan oleh Johan Alexander Supit untuk memperkuat bisnis di sektor hulu.

Pada 1990, perusahaan membeli lahan pabrik di Citeureup, disusul pembangunan pabrik di Gunung Putri pada 1992. Ekspansi berlanjut pada 2002 dengan pembelian kebun teh seluas sekitar 4.000 hektare.

Setelah Johan Alexander Supit meninggal dunia pada 21 November 2015, tongkat kepemimpinan PT Sariwangi Agricultural Estate Agency (AEA) sempat dilanjutkan oleh putranya, Andrew Supit.

Namun, masa kepemimpinan tersebut berlangsung singkat. Andrew menyatakan bahwa dirinya tidak lagi menjabat sebagai Direktur Utama sejak 30 Oktober 2015, seiring dengan pengambilalihan mayoritas saham perusahaan oleh pihak asing.

Kepada detikFinance, Andrew mengungkapkan bahwa perusahaan asing bernama CR AROMA telah menjadi pemegang saham mayoritas dengan menguasai sekitar 70% saham PT Sariwangi AEA. Sejak proses pengambilalihan itu, keluarga Supit tidak lagi terlibat dalam pengelolaan perusahaan.

“Kami keluarga sudah tidak pernah lagi terlibat di perusahaan semenjak 30 Oktober 2015,” ungkap Andrew.

Ekspansi agresif di sektor perkebunan akhirnya menimbulkan tekanan keuangan. Sejak 2015, PT Sariwangi AEA dan perusahaan afiliasinya menanggung utang sekitar Rp1,5 triliun kepada sejumlah bank besar. Upaya restrukturisasi melalui PKPU tidak berhasil.

Kemudian, pada Oktober 2018, Majelis Hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat memutuskan PT Sariwangi AEA beserta perusahaan afiliasinya, PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung, dalam status pailit, menutup perjalanan perusahaan pendiri Sariwangi di sektor hulu.

Sariwangi Tetap Bertahan di Bawah Unilever

Masih dikutip dari Kompas.com, Unilever menegaskan bahwa kepailitan tersebut tidak berkaitan dengan operasional perseroan. Sejak awal 2018, Unilever telah memutus hubungan dengan PT Sariwangi AEA dan menggandeng pemasok baru, PT Agriwangi Indonesia, untuk menjaga kontinuitas produksi.

Di bawah Unilever, Sariwangi menjelma menjadi merek teh terbesar di Indonesia dan tetap melekat kuat di benak konsumen Indonesia sebagai simbol teh celup praktis.

Berpindah ke Grup Djarum

Babak terbaru perjalanan Sariwangi resmi dimulai pada Januari 2026. PT Unilever Indonesia Tbk mengumumkan pelepasan bisnis teh bermerek Sariwangi kepada PT Savoria Kreasi Rasa, entitas yang terafiliasi dengan Grup Djarum. Keputusan ini sekaligus menandai berakhirnya perjalanan panjang Sariwangi di bawah naungan Unilever setelah lebih dari tiga dekade.

Dikutip dari Bisnis.com, pengalihan bisnis tersebut ditandai dengan penandatanganan Business Transfer Agreement (BTA) pada 6 Januari 2026. Nilai transaksi disepakati sebesar Rp1,5 triliun di luar pajak, dengan target penyelesaian pada 2 Maret 2026. Unilever menegaskan bahwa divestasi ini tidak memberikan dampak material terhadap kegiatan operasional maupun kelangsungan usaha perseroan.

Presiden Direktur Unilever Indonesia, Benjie Yap, menegaskan, pelepasan bisnis teh SariWangi merupakan bagian dari strategi Unilever Indonesia dalam mengoptimalkan portofolio usahanya. Menurutnya, langkah ini sejalan dengan fokus perusahaan untuk memperkuat kategori bisnis yang lebih ramping, namun memiliki skala besar serta peluang pertumbuhan berkelanjutan, guna mendukung penciptaan nilai jangka panjang.

Benjie Yap juga menilai transaksi tersebut akan membawa manfaat bagi kedua belah pihak.

“Kami yakin transaksi ini akan memperkuat posisi bisnis SariWangi untuk fase pertumbuhan berikutnya. Langkah ini sekaligus mempertajam fokus Unilever Indonesia pada segmen utama yang memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi dan menegaskan komitmen kami untuk menciptakan nilai berkelanjutan bagi para pemegang saham,” ungkap Benjie Yap dalam pernyataan resmi Unilever, dikutip Jumat (9/1/2026).

Dijelaskan Benjie Yap, Unilever Indonesia sendiri mengakuisisi merek SariWangi pada 1989. Sejak saat itu, SariWangi dikenal sebagai pelopor teh celup di Indonesia dan tumbuh menjadi salah satu merek teh paling dipercaya oleh keluarga Indonesia.

Konsistensi kualitas, inovasi produk yang terus berkembang, serta loyalitas konsumen yang tinggi menjadi fondasi kuat SariWangi selama berada di bawah Unilever. Adapun, proses divestasi ini akan diselesaikan setelah seluruh persyaratan penutupan yang lazim terpenuhi dan ditargetkan rampung pada semester pertama 2026.

Nah Growthmates, dengan beralihnya kepemilikan merek Sariwangi ke Savoria, bagian dari Grup Djarum, merek teh legendaris tersebut kini memasuki fase baru, membuka peluang pengembangan dan pertumbuhan di bawah pemilik baru setelah sekitar 36 tahun bersama Unilever.

Baca Juga: Kisah Pendirian Djarum Group