Djarum Group, lewat PT Savoria Kreasi Rasa (Savoria Group), membeli bisnis teh Sariwangi dari PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) sebagaimana tertuang dalam Perjanjian Pengalihan Bisnis atau Business Transfer Agreement (BTA) keduanya. Berdasarkan transaksi yang dilakukan pada pada 6 Januari 2026 tersebut, Unilever akan memperoleh dana sebesar Rp1,5 triliun dengan target penuntasan transaksi pada 2 Maret 2026.
Menurut Unilever, pelepasan Sariwangi merupakan bagian dari strategi bisnis yang berfokus pada segmen Household & Personal Care (HPC). Sebelumnya, mereka telah menjual bisnis lain di segmen Food & Refreshments, yakni es krim kepada PT Magnum Ice Cream Indonesia senilai Rp7 triliun.
Baca Juga: Sejarah Sariwangi: Dari Pelopor Teh Celup Hingga Gonta-Ganti Pemilik
"Nilai transaksi Sariwangi 45 persen dari ekuitas perseroan, berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2025," kata Sekretaris Perusahaan Unilever, Padwestiana Kristanti, dikutip Selasa (13/1/2026).
Aset Sariwangi tercatat sebesar 2,5 persen dari total aset Unilever Indonesia. Sementara itu, kontribusi pendapatan Sariwangi sebesar 3,1 persen dengan laba bersih sebesar 2,7 persen terhadap total pendapatan usaha dan laba bersih Unilever Indonesia.
Sariwangi, Merek Lokal Pelopor Teh Celup di Indonesia
Masuknya teh celup ke Indonesia dipelopori oleh Sariwangi yang mulai diperkenalkan pada tahun 1973. Awalnya, merek tersebut diproduksi oleh Johan Alexander Supit lewat PT Sariwangi Agricultural Estate Agency (SAEA).
Ternyata, Sariwangi menuai sukses hingga mampu menembus pasar ekspor ke Amerika Serikat, Australia, Inggris, kawasan Timur Tengah, hingga Rusia pada tahun 1985. Di tahun 1989, PT Unilever Indonesia Tbk resmi mengakuisisi hak merek Sariwangi dan memasukkannya ke dalam portofolio produk fast-moving consumer goods (FMCG). Di sisi lain, PT Sariwangi AEA tetap menjalankan bisnis teh di luar merek Sariwangi.
Setelah akuisisi tersebut, Unilever juga masih bekerja sama dengan PT Sariwangi AEA dengan mengambil pasokan teh dari perkebunan yang dikelola PT Sariwangi. Sementara itu, produksi teh Sariwangi kemudian dilakukan di fasilitas Unilever di Cikarang, Jawa Barat, serta melalui pabrik pihak ketiga.
Di tahun 2018, Majelis Hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat memutuskan PT Sariwangi AEA beserta perusahaan afiliasinya, PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung, dalam status pailit. Selepas itu, Unilever Indonesia lantas menggandeng pemasok baru, yakni PT Agriwangi Indonesia. Merek Sariwangi terus dikelola Unilever hingga dilepas tahun ini kepada pihak Djarum.