Ambisi Hulu dan Krisis Keuangan
Mengutip Kompas.com, dana hasil penjualan merek kepada Unilever dimanfaatkan oleh Johan Alexander Supit untuk memperkuat bisnis di sektor hulu.
Pada 1990, perusahaan membeli lahan pabrik di Citeureup, disusul pembangunan pabrik di Gunung Putri pada 1992. Ekspansi berlanjut pada 2002 dengan pembelian kebun teh seluas sekitar 4.000 hektare.
Setelah Johan Alexander Supit meninggal dunia pada 21 November 2015, tongkat kepemimpinan PT Sariwangi Agricultural Estate Agency (AEA) sempat dilanjutkan oleh putranya, Andrew Supit.
Namun, masa kepemimpinan tersebut berlangsung singkat. Andrew menyatakan bahwa dirinya tidak lagi menjabat sebagai Direktur Utama sejak 30 Oktober 2015, seiring dengan pengambilalihan mayoritas saham perusahaan oleh pihak asing.
Kepada detikFinance, Andrew mengungkapkan bahwa perusahaan asing bernama CR AROMA telah menjadi pemegang saham mayoritas dengan menguasai sekitar 70% saham PT Sariwangi AEA. Sejak proses pengambilalihan itu, keluarga Supit tidak lagi terlibat dalam pengelolaan perusahaan.
“Kami keluarga sudah tidak pernah lagi terlibat di perusahaan semenjak 30 Oktober 2015,” ungkap Andrew.
Ekspansi agresif di sektor perkebunan akhirnya menimbulkan tekanan keuangan. Sejak 2015, PT Sariwangi AEA dan perusahaan afiliasinya menanggung utang sekitar Rp1,5 triliun kepada sejumlah bank besar. Upaya restrukturisasi melalui PKPU tidak berhasil.
Kemudian, pada Oktober 2018, Majelis Hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat memutuskan PT Sariwangi AEA beserta perusahaan afiliasinya, PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung, dalam status pailit, menutup perjalanan perusahaan pendiri Sariwangi di sektor hulu.
Sariwangi Tetap Bertahan di Bawah Unilever
Masih dikutip dari Kompas.com, Unilever menegaskan bahwa kepailitan tersebut tidak berkaitan dengan operasional perseroan. Sejak awal 2018, Unilever telah memutus hubungan dengan PT Sariwangi AEA dan menggandeng pemasok baru, PT Agriwangi Indonesia, untuk menjaga kontinuitas produksi.
Di bawah Unilever, Sariwangi menjelma menjadi merek teh terbesar di Indonesia dan tetap melekat kuat di benak konsumen Indonesia sebagai simbol teh celup praktis.
Berpindah ke Grup Djarum
Babak terbaru perjalanan Sariwangi resmi dimulai pada Januari 2026. PT Unilever Indonesia Tbk mengumumkan pelepasan bisnis teh bermerek Sariwangi kepada PT Savoria Kreasi Rasa, entitas yang terafiliasi dengan Grup Djarum. Keputusan ini sekaligus menandai berakhirnya perjalanan panjang Sariwangi di bawah naungan Unilever setelah lebih dari tiga dekade.
Dikutip dari Bisnis.com, pengalihan bisnis tersebut ditandai dengan penandatanganan Business Transfer Agreement (BTA) pada 6 Januari 2026. Nilai transaksi disepakati sebesar Rp1,5 triliun di luar pajak, dengan target penyelesaian pada 2 Maret 2026. Unilever menegaskan bahwa divestasi ini tidak memberikan dampak material terhadap kegiatan operasional maupun kelangsungan usaha perseroan.
Presiden Direktur Unilever Indonesia, Benjie Yap, menegaskan, pelepasan bisnis teh SariWangi merupakan bagian dari strategi Unilever Indonesia dalam mengoptimalkan portofolio usahanya. Menurutnya, langkah ini sejalan dengan fokus perusahaan untuk memperkuat kategori bisnis yang lebih ramping, namun memiliki skala besar serta peluang pertumbuhan berkelanjutan, guna mendukung penciptaan nilai jangka panjang.
Benjie Yap juga menilai transaksi tersebut akan membawa manfaat bagi kedua belah pihak.
“Kami yakin transaksi ini akan memperkuat posisi bisnis SariWangi untuk fase pertumbuhan berikutnya. Langkah ini sekaligus mempertajam fokus Unilever Indonesia pada segmen utama yang memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi dan menegaskan komitmen kami untuk menciptakan nilai berkelanjutan bagi para pemegang saham,” ungkap Benjie Yap dalam pernyataan resmi Unilever, dikutip Jumat (9/1/2026).
Dijelaskan Benjie Yap, Unilever Indonesia sendiri mengakuisisi merek SariWangi pada 1989. Sejak saat itu, SariWangi dikenal sebagai pelopor teh celup di Indonesia dan tumbuh menjadi salah satu merek teh paling dipercaya oleh keluarga Indonesia.
Konsistensi kualitas, inovasi produk yang terus berkembang, serta loyalitas konsumen yang tinggi menjadi fondasi kuat SariWangi selama berada di bawah Unilever. Adapun, proses divestasi ini akan diselesaikan setelah seluruh persyaratan penutupan yang lazim terpenuhi dan ditargetkan rampung pada semester pertama 2026.
Nah Growthmates, dengan beralihnya kepemilikan merek Sariwangi ke Savoria, bagian dari Grup Djarum, merek teh legendaris tersebut kini memasuki fase baru, membuka peluang pengembangan dan pertumbuhan di bawah pemilik baru setelah sekitar 36 tahun bersama Unilever.
Baca Juga: Kisah Pendirian Djarum Group