dr. Ray menekankan bahwa coping mechanism tidak bisa disamaratakan untuk semua orang. Cara yang efektif bagi satu orang belum tentu memberikan dampak yang sama bagi orang lain.

"Karena kita tahu coping mechanism dulu. Dan ini sekarang yang kemudian oleh banyak negara maju, itu sudah dijadikan promosi kesehatan jual," katanya.

Ia menjelaskan bahwa pendekatan dalam membangun coping mechanism perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing individu.

"Coping mechanism kita itu sangat personalized. Sangat case-by-case. Case-by-case," tegas dr. Ray.

Menurutnya, seseorang juga perlu berhati-hati ketika memilih aktivitas tertentu sebagai cara untuk mengatasi tekanan hanya karena melihat orang lain merasa terbantu dengan aktivitas serupa.

"Ketika Muntahil bilang tadi, saya memutuskan untuk lari, karena ternyata melihat banyak orang yang sembuh dengan healing lewat, bergabung di ranah-ranah community, itu adalah salah satu kesalahan. Karena apa? Ini coping style Muntahil mengambil," jelasnya.

Lebih jauh, dr. Ray mengingatkan risiko melakukan self-diagnosis, terutama ketika seseorang mencari informasi mengenai kondisi kesehatan mental melalui berbagai platform digital yang tidak selalu tervalidasi.

Menurutnya, masyarakat perlu menempatkan proses screening sebagai salah satu langkah awal yang penting sebelum menentukan penanganan yang sesuai.

"Dan ini yang terjadi bagi kita semua. Ketika kemudian kita salah, apalagi healing itu terjadi karena kita tahu kita punya kambungan kesehatan jual, karena kita mengisi platform lain di Google atau GCPT yang tidak tervalidasi. Makanya screen itu nomor satu penyelesaian lebih dari 90% masalah kesehatan jual," ujar dr. Ray.

Ia menegaskan bahwa proses screening sebaiknya menggunakan perangkat atau instrumen yang telah tervalidasi.

Dengan begitu, seseorang tidak hanya mengandalkan hasil pencarian di internet atau kesimpulan pribadi untuk menentukan kondisi kesehatan mentalnya.

"Screen ini menggunakan tools yang tervalidasi," pungkasnya.

Baca Juga: Kenapa Keragaman Bakteri Baik di Usus Jadi Kunci Masa Depan Anak?