Growthmates, isu mengenai penggunaan cat rambut yang disebut dapat meningkatkan risiko kanker payudara hingga 60 persen sempat ramai diperbincangkan di media sosial.

Angka tersebut merujuk pada hasil Sister Study, penelitian yang melibatkan 46.709 perempuan dan dipublikasikan dalam International Journal of Cancer.

Menanggapi isu tersebut, Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Samuel Stemi, MBiomed, AIFO-K, Dipl AAAM, mengatakan hasil penelitian perlu dipahami secara proporsional.

Menurutnya, angka 60 persen yang beredar bukan berarti enam dari setiap 10 perempuan yang menggunakan cat rambut akan mengalami kanker payudara. Angka tersebut merupakan peningkatan risiko relatif yang ditemukan pada kelompok tertentu dalam penelitian.

“Angka ini harus dipahami secara hati-hati. Ini adalah peningkatan risiko relatif, bukan berarti 60 persen pengguna cat rambut akan terkena kanker payudara. Selain itu, penelitian tersebut merupakan studi observasional sehingga menunjukkan hubungan (association), bukan membuktikan hubungan sebab-akibat,” paparnya, sebagaimana Olenka kutip dari laman IPB University, Selasa (8/9/2026).

dr. Samuel menjelaskan, Sister Study memang menemukan adanya hubungan antara penggunaan pewarna rambut permanen dan peningkatan risiko kanker payudara. Namun, angka peningkatan risiko hingga sekitar 60 persen tidak berlaku untuk seluruh perempuan yang menggunakan cat rambut.

Angka tersebut ditemukan pada kelompok perempuan Black/African American yang menggunakan pewarna rambut permanen setiap 5–8 minggu atau lebih sering.

Ia menjelaskan bahwa penelitian tersebut sebenarnya melibatkan perempuan dari berbagai kelompok ras. Ketika seluruh peserta dianalisis, penggunaan pewarna rambut permanen dalam 12 bulan sebelum penelitian dikaitkan dengan peningkatan risiko sekitar 9 persen.

“Peserta studi tersebut sebetulnya tidak hanya Black/African-American saja, tapi ada juga perempuan White. Nah, studi itu menemukan bahwa pada seluruh peserta, penggunaan permanent hair dye dalam 12 bulan sebelum ikut dalam penelitian, dikaitkan dengan sekitar 9 persen peningkatan risiko. Pada perempuan White sekitar 7 persen, sedangkan pada perempuan Black sekitar 45 persen. Angka 60 persen muncul pada kelompok Black yang menggunakan permanent dye setiap 5–8 minggu atau lebih sering,” urai dr. Samuel.

Dengan demikian, menurutnya, angka yang ramai beredar di media sosial perlu dilihat berdasarkan konteks penelitian, termasuk kelompok responden dan frekuensi penggunaan pewarna rambut.

dr. Samuel juga menekankan bahwa hubungan antara penggunaan cat rambut dan kanker payudara hingga kini belum menunjukkan bukti yang sepenuhnya konsisten.

Ia merujuk pada meta-analisis yang menggabungkan 14 penelitian dengan lebih dari 210.000 subjek. Hasil analisis tersebut menunjukkan adanya peningkatan risiko secara keseluruhan sekitar 7 persen.

“Beberapa penelitian menemukan adanya hubungan antara penggunaan pewarna rambut permanen, terutama penggunaan yang sering, dengan peningkatan risiko kanker payudara pada kelompok tertentu, tetapi belum dapat disimpulkan bahwa cat rambut secara langsung menyebabkan kanker,” tambahnya.

Baca Juga: Benarkah Bra Berkawat Picu Kanker Payudara? Dokter Ungkap Faktanya