Hal ini menjadi penting karena penelitian observasional pada dasarnya dapat menemukan hubungan antara dua hal, tetapi belum cukup untuk memastikan bahwa salah satunya secara langsung menjadi penyebab yang lain.

Salah satu hal yang turut menjadi perhatian dalam pembahasan mengenai cat rambut adalah kandungan bahan kimianya.Menurut dr. Samuel, produk pewarna rambut memiliki formulasi yang beragam. Salah satu kelompok bahan yang mendapat perhatian adalah aromatic amines, termasuk p-phenylenediamine (PPD).

Namun, adanya suatu bahan kimia dalam produk tidak secara otomatis berarti bahan tersebut terbukti menyebabkan kanker pada manusia.

Ia menjelaskan, formulasi produk pewarna rambut juga telah mengalami perubahan dalam beberapa dekade terakhir. Sejumlah bahan yang diketahui memiliki sifat karsinogenik telah dihilangkan atau penggunaannya dibatasi.

Sementara itu, International Agency for Research on Cancer (IARC) yang berada di bawah naungan World Health Organization (WHO) mengategorikan penggunaan pribadi hair colourants sebagai “not classifiable as to carcinogenicity to humans” karena bukti pada manusia dinilai belum memadai. Klasifikasi tersebut berbeda dengan paparan pekerjaan pada hairdresser atau barber, yang masuk dalam kategori probably carcinogenic.

Melihat bukti yang ada, dr. Samuel pun lantas mengingatkan masyarakat agar tidak langsung panik ketika menggunakan cat rambut. Meski demikian, bukan berarti penggunaan produk tersebut perlu dilakukan secara berlebihan.

Ia menyarankan masyarakat memilih produk yang legal, mengikuti petunjuk penggunaan, serta tidak menggunakan pewarna rambut lebih sering daripada yang diperlukan. Kondisi kulit kepala juga perlu diperhatikan dan sebaiknya tidak menggunakan produk ketika kulit sedang mengalami luka atau iritasi.

“Jika seseorang sesekali mengecat rambut, tidak ada dasar ilmiah yang kuat untuk mengatakan bahwa ia harus takut akan terkena kanker payudara karena aktivitas tersebut.

Akan tetapi, untuk penggunaan yang sangat sering dan berlangsung bertahun-tahun, terutama dengan produk permanen, masuk akal untuk mempertimbangkan pengurangan frekuensi dan memilih produk dengan profil keamanan yang baik,” ujarnya.

dr. Samuel juga mengingatkan agar perhatian terhadap kanker payudara tidak hanya berfokus pada penggunaan cat rambut. Sejumlah faktor risiko telah memiliki bukti ilmiah yang lebih kuat.

Faktor tersebut antara lain usia, riwayat keluarga atau faktor genetik, obesitas setelah menopause, konsumsi alkohol, tingkat aktivitas fisik, serta faktor hormonal dan reproduksi.

Karena itu, penggunaan cat rambut sebaiknya ditempatkan dalam konteks yang tepat dan tidak dianggap sebagai satu-satunya faktor yang menentukan risiko kanker payudara.

“Jadi prinsipnya adalah don’t panic, but minimize unnecessary exposure. Cat rambut bukan sesuatu yang perlu ditakuti, tetapi penggunaannya tetap sebaiknya bijak.

Evidence saat ini belum cukup untuk menyatakan bahwa cat rambut secara langsung menyebabkan kanker payudara, tetapi adanya sinyal risiko pada beberapa penelitian membuat penggunaan yang berlebihan dan tidak perlu sebaiknya dihindari,” pungkasnya.

Baca Juga: Benarkah Kebiasaan Menggigit Puting Pasangan Bisa Menyebabkan Kanker Payudara? Begini Kata Dokter Ahli