Menurut Raisa, seni pada dasarnya tidak dibatasi oleh medium. Baik itu tari, musik, maupun bentuk ekspresi lainnya, semuanya bisa dinilai dari rasa yang disampaikan.

“Tapi pada akhirnya menurutku semua bentuk seni itu, mau itu tari, ataupun suara, musik, dan lain-lain, semua tuh ya kita bisa melihat dan merasakan dari soul-nya,” jelasnya.

Pendekatan inilah yang akan ia bawa saat menjadi juri. Raisa menyadari dirinya mungkin tidak memiliki pemahaman teknis tentang tari, tetapi ia percaya pada kepekaan rasa yang dimilikinya.

“Jadi mungkin nanti ketika aku duduk di bangku juri, aku akan lebih gampang luluh gitu ya sama penari-penarinya karena ga ngerti dengan teknik, tapi hanya bisa merasakan soulnya mereka, bisa merasakan kebanggaan mereka terhadap budaya dan tari yang dibawakan,” ungkapnya.

Bagi Raisa, pengalaman ini bukan hanya soal menilai, tetapi juga kesempatan untuk belajar dan menemukan inspirasi baru. Ia mengaku antusias menyaksikan langsung penampilan para peserta yang membawa kekayaan budaya Indonesia ke atas panggung.

“Jadi aku gak sabar untuk belajar dari semua penari-penari yang akan tampil besok, dan juga aku gak sabar untuk terinspirasi dari mereka semua juga,” tuturnya.

Terakhir, Raisa pun menegaskan bahwa keyakinannya bahwa esensi seni terletak pada rasa dan kebanggaan yang ditampilkan.

“Semua bentuk seni itu bisa kita lihat dan rasakan dari soulnya. Aku ingin melihat kebanggaan mereka terhadap budaya dan tari yang mereka bawakan,” tandas Raisa.

Baca Juga: Wamen Ekraf Dorong Pagelaran Sabang Merauke Tembus Panggung Internasional