Keterlibatan Penyanyi, Raisa, dalam ajang The Audition menjadi warna tersendiri dalam rangkaian Road to Pagelaran Sabang Merauke 2026 yang digelar oleh iForte.

Penyanyi yang dikenal lewat suara lembutnya ini dipastikan duduk di bangku juri untuk mencari penari berbakat dari seluruh Indonesia, sebuah peran yang awalnya bahkan sempat ia pertanyakan.

Wanita kelahiran 6 Juni 1990 itu mengaku cukup terkejut ketika pertama kali diajak bergabung dalam ajang tersebut.

Ia merasa kehadirannya berada di luar konteks, mengingat latar belakangnya sebagai musisi, bukan penari.

“Aku sih sempat bertanya, Pagelaran Sabang-Merauke kenapa tertarik mengajak aku di sini? Karena dari tadi kayaknya yang paling di luar konteks adalah saya,” ungkap Raisa, saat konferensi pers Road to Pagelaran Sabang Merauke 2026, di Main Atrium, Grand Indonesia East Mall, Jumat (24/4/2026).

Meski demikian, Raisa bukan sosok yang asing dengan kemegahan Pagelaran Sabang Merauke. Ia mengaku sudah mengikuti pertunjukan sebelumnya dan terkesan dengan skala serta kreativitas yang ditampilkan.

“Tapi pastinya aku sudah sangat familiar dengan Pagelaran Sabang Merauke dan udah ngeliat yang tahun lalu, juga lihat Yura dengan naga-naga itu, luar biasa sekali pagelarannya,” tuturnya seraya tersenyum.

Saat tawaran menjadi juri datang, Raisa pun mengaku bahwasanya ia mempertanyakan alasan dirinya dipilih.

“Ketika ditawarkan untuk ‘mau ga jadi juri?’, pertama yang aku tanyain, ‘kenapa harus aku?’ gitu,” kenangnya.

Namun seiring waktu, ia menemukan sudut pandang yang membuatnya mantap menerima peran tersebut.

Baca Juga: Pagelaran Sabang Merauke 2026, Yura Yunita Bangga Lagunya Jadi Ekspresi Kolektif Ratusan Penari

Menurut Raisa, seni pada dasarnya tidak dibatasi oleh medium. Baik itu tari, musik, maupun bentuk ekspresi lainnya, semuanya bisa dinilai dari rasa yang disampaikan.

“Tapi pada akhirnya menurutku semua bentuk seni itu, mau itu tari, ataupun suara, musik, dan lain-lain, semua tuh ya kita bisa melihat dan merasakan dari soul-nya,” jelasnya.

Pendekatan inilah yang akan ia bawa saat menjadi juri. Raisa menyadari dirinya mungkin tidak memiliki pemahaman teknis tentang tari, tetapi ia percaya pada kepekaan rasa yang dimilikinya.

“Jadi mungkin nanti ketika aku duduk di bangku juri, aku akan lebih gampang luluh gitu ya sama penari-penarinya karena ga ngerti dengan teknik, tapi hanya bisa merasakan soulnya mereka, bisa merasakan kebanggaan mereka terhadap budaya dan tari yang dibawakan,” ungkapnya.

Bagi Raisa, pengalaman ini bukan hanya soal menilai, tetapi juga kesempatan untuk belajar dan menemukan inspirasi baru. Ia mengaku antusias menyaksikan langsung penampilan para peserta yang membawa kekayaan budaya Indonesia ke atas panggung.

“Jadi aku gak sabar untuk belajar dari semua penari-penari yang akan tampil besok, dan juga aku gak sabar untuk terinspirasi dari mereka semua juga,” tuturnya.

Terakhir, Raisa pun menegaskan bahwa keyakinannya bahwa esensi seni terletak pada rasa dan kebanggaan yang ditampilkan.

“Semua bentuk seni itu bisa kita lihat dan rasakan dari soulnya. Aku ingin melihat kebanggaan mereka terhadap budaya dan tari yang mereka bawakan,” tandas Raisa.

Baca Juga: Wamen Ekraf Dorong Pagelaran Sabang Merauke Tembus Panggung Internasional