Bagi Vidjongtius, kesadaran tersebut membuat karyawan tidak sekadar menjalankan tugas karena adanya instruksi dari perusahaan.
Sebaliknya, mereka terdorong untuk memberikan kontribusi secara sukarela karena memahami tujuan yang lebih besar dari pekerjaan yang dilakukan.
“Kita diminta tanpa disuruh lah gitu ya, kita melakukan semua itu,” tuturnya.
Ia pun menilai, budaya semacam ini tidak dapat dibangun hanya melalui aturan atau instruksi formal.
Perusahaan perlu memastikan bahwa purpose dan values yang dimiliki benar-benar dipahami dan dihidupi oleh setiap orang di dalam organisasi.
Menurutnya, ketika purpose dan nilai perusahaan berhasil tertanam dalam diri karyawan, dampaknya tidak hanya terlihat dari kinerja internal. Karyawan juga secara alami dapat menjadi representasi perusahaan ketika berinteraksi dengan masyarakat.
“Itu satu hal yang saya rasa kembali ke core-nya lagi, yang tadi purpose-nya, values-nya, segala macam, kalau itu muncul, orang-orang kita itu akan menjadi ambasador gitu loh. Jadi, dari perusahaan kita sendiri,” tandas Vidjongtius.