Badan Gizi Nasional (BGN) bakal melakukan perubahan besar-besaran dalam mengimplementasikan program Makan Bergizi Gratis (MBG), BGN di bawah kepemimpinan Nanik S Deyang berkomitmen mengurangi beban Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Untuk itu BGN menjajaki kemungkinan penggunaan dana dari luar APBN misalnya dana dari investor, bahkan BGN juga membidik hibah dari luar negeri untuk mendukung MBG terutama yang di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Baca Juga: BGN Mau Irit Anggaran MBG, Nanik Deyang Kasih Kode Bakal Pangkas Jumlah Penerima Manfaat

"Kami akan mencoba mengurangi penggunaan APBN. Tadi kami sudah didemo, ada investor yang sudah membangun. Namun, untuk wilayah-wilayah yang belum digarap oleh investor, kami akan coba kerja samakan atau kita bisa dibiayai dengan CSR-nya BUMN, atau mungkin ada hibah dari luar negeri, atau mungkin juga kalau di tempat itu ada perusahaan-perusahaan besar misalnya berinvestasi,” kata Nanik dilansir Selasa (9/6/2026).

BGN saat ini sedang melakukan penghematan anggaran MBG dengan menekan penggunaan anggaran yang bersumber dari APBN, untuk itu pembangunan dapur baru atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk sementara tak dilakukan lagi.

Kebijakan tersebut diambil untuk mengevaluasi dan menata kembali distribusi dapur MBG yang saat ini masih terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Menurut Nanik, BGN akan menghitung ulang kebutuhan fasilitas di setiap daerah sebelum memutuskan melanjutkan pembangunan dapur baru.

"Jadi kita mau menata, misalnya Jawa Tengah ini harusnya butuh berapa, Jawa Barat ini butuh berapa, Jakarta butuh berapa, dan lain-lain Jawa. Karena memang dari datanya Ibu Arumsari, dapur ini masih menumpuk di Jawa. Kemudian, setelah kami menata baru ya kami hitung apakah perlu kami membuka kembali atau tidak," ujarnya.

Saat ini, BGN mencatat sekitar 27.877 dapur MBG telah beroperasi di berbagai wilayah Indonesia.

Selain penataan infrastruktur, BGN juga akan melakukan evaluasi terhadap sasaran penerima manfaat program. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan bantuan gizi benar-benar diterima kelompok yang membutuhkan.

Nanik menjelaskan, evaluasi akan dilakukan terhadap sekitar 63 juta penerima manfaat yang saat ini tercatat dalam program MBG. Menurutnya, tidak menutup kemungkinan jumlah tersebut akan disesuaikan berdasarkan kebutuhan riil di lapangan.

"Jadi kita lebih arahkan nanti benar-benar pada anak-anak atau penerima manfaat yang benar-benar membutuhkan intervensi gizi. Nah, ini kita akan refocusing, sehingga apakah 63 juta yang sekarang ada ini benar tuh 63 juta ini butuh? Atau sebetulnya bisa dikurangi kemudian nanti kita tambah yang belum memperoleh?" tuturnya.

Baca Juga: Sony Sonjaya Bongkar 20 Nama Tokoh Besar yang Diduga Terlibat Korupsi MBG, Siapa Saja?

Melalui penataan pembiayaan, distribusi dapur, dan penerima manfaat, BGN berharap Program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan lebih efektif, tepat sasaran, dan berkelanjutan tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap keuangan negara.