Pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari kursi Menteri Keuangan belum berhenti menjadi bahan perbincangan. Setelah keluar dari kabinet, Purbaya kini tidak hanya dibicarakan soal rekam jejaknya sebagai menteri, tetapi juga mengenai kemungkinan arah perjalanan politiknya ke depan.

Presiden Gerakan Oposisi M Syukur Mandar menyoroti posisi Purbaya dari sisi berbeda. Ia mengingatkan bahwa seorang menteri sebagai pembantu presiden tidak semestinya bertindak seolah memiliki kewenangan yang sama dengan kepala negara.

Pernyataan itu disampaikan Syukur ketika merespons pencopotan Purbaya dalam tayangan YouTube Sinkos Indonesia, yang dikutip Selasa (22/9/2026).

“Kalau ada orang membantu Presiden bermimpi seperti Presiden saya tidak berharap ke situ,” kata Syukur.

“Jadi, kalau ada seorang pembantu Presiden bertindak seolah-olah seorang Presiden saya tidak menaruh harapan di situ,” lanjutnya.

Baca Juga: Bye-Bye Lapor Pak Purbaya, Menkeu Suahasil Punya Cara Sendiri Tampung Keluhan Publik untuk Kemenkeu

Menurut Syukur, posisi menteri memiliki konteks tersendiri dalam sistem pemerintahan. Ia kemudian menyinggung mekanisme pengangkatan pejabat kabinet yang berkaitan dengan kewenangan Presiden serta usulan dari koalisi partai.

“Proses pengangkatan Menteri itu berdasarkan kehendak Presiden dan usul koalisi partai rekomendasi,” ujarnya.

Atas dasar itu, Syukur menilai publik tidak perlu terlalu jauh memperdebatkan keputusan pemberhentian seorang menteri. Ia meminta persoalan tersebut dilihat dalam kerangka sistem pemerintahan.

“Jadi, kalau ada pemberhentian atau segala macam publik tidak boleh mempersoalkan itu karena kita mau fokus ke sistem,” katanya.

Pencopotan Purbaya sendiri memang menjadi perhatian karena berlangsung ketika dirinya sedang mengikuti rapat bersama DPD. Ia kemudian meninggalkan rapat setelah menerima telepon dari Istana. Purbaya selanjutnya digantikan oleh Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara.

Namun, cerita mengenai Purbaya tidak berhenti setelah ia meninggalkan Kementerian Keuangan.

Baca Juga: Menunggu Keputusan Final Soal Perombakan Pejabat Pajak dan Bea Cukai Era Purbaya: Batal atau Lanjut?

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah Putra justru melihat Purbaya masih memiliki modal jika memilih melanjutkan kiprah di ruang politik.

Dedi menyebut setidaknya ada dua modal yang melekat pada Purbaya. Pertama, pengalaman sebagai birokrat teknokratis di lembaga sentral. Kedua, kedekatan emosional yang menurutnya berhasil dibangun dengan masyarakat kelas bawah.

“Purbaya memadukan dua modal utama, dia berpengalaman sebagai birokrat teknokratis di lembaga sentral, sekaligus memiliki ikatan emosional yang kuat dengan masyarakat kelas bawah,” kata Dedi.

Selain latar belakang tersebut, Dedi menilai gaya komunikasi Purbaya turut membuat namanya mendapat perhatian publik. Ia menggambarkan Purbaya sebagai figur yang berbicara secara lugas dan tidak terlalu berjarak dengan masyarakat.

“Purbaya berhasil merebut hati publik karena komunikasinya yang ceplos-ceplos, jujur, dan tidak berjarak,” ujarnya.

Menurut Dedi, karakter komunikasi seperti itu membuat Purbaya memiliki daya tarik tersendiri di tengah citra pejabat yang kerap dianggap terlalu elitis.

“Pejabat bersikap elit sudah sangat membosankan bagi publik,” kata Dedi.

Dedi kemudian mengaitkan kondisi tersebut dengan pencopotan Purbaya. Ia menilai keputusan tersebut justru dapat membuka babak baru bagi perjalanan politik mantan Menteri Keuangan itu.

Dalam pandangannya, apabila perhatian dan simpati publik terhadap Purbaya setelah tidak lagi berada di kabinet dapat dikonsolidasikan, ruang politik baru dapat terbuka.

“Proses pemecatan yang terkesan tidak lazim ini justru bisa menjadi bumerang politik dan membuat Purbaya berpotensi menjelma sebagai kekuatan perlawanan politik baru,” ujar Dedi.

Dengan demikian, pencopotan Purbaya kini dibaca dari dua sudut berbeda. Syukur Mandar menekankan batas posisi seorang menteri sebagai pembantu Presiden, sementara Dedi melihat pengalaman birokrasi dan kedekatan Purbaya dengan publik sebagai modal yang dapat dibawa ke luar kabinet.

Adapun mengenai langkah Purbaya selanjutnya, sejauh ini berbagai kemungkinan tersebut masih berupa analisis dan pembacaan dari pihak luar. Belum ada keputusan resmi mengenai apakah Purbaya akan masuk ke arena politik atau mengambil jalur lain setelah meninggalkan jabatan Menteri Keuangan.