Eksplorasi Katun untuk Kenyamanan

Tidak hanya pada desain, Puragraph juga memberikan perhatian pada material. Jenama ini mulai mengeksplorasi penggunaan serat katun sebagai bagian dari upaya menghadirkan busana yang lebih nyaman sekaligus mengurangi ketergantungan pada polyester.

“Kita memang memfokuskan ke kain yang mungkin kita agak gundah juga, karena kadang pakai polyester. Di sini kita ingin achieve sesuatu di mana kita mengeluarkan koleksi dari serat katun,” ujarnya.

Bagi Maritza, kenyamanan menjadi pertimbangan penting dalam menentukan material. Ia menilai terdapat perbedaan pengalaman ketika busana berbahan katun dibandingkan polyester dikenakan secara langsung.

“Lebih nyaman saja sih. Karena kita juga dari sisi fashion merasakan bedanya. Memang terasa perbedaannya ketika pakai polyester dan katun,” katanya.

Meski demikian, penggunaan katun bukan tanpa tantangan. Material tersebut cenderung lebih mudah kusut sehingga diperlukan proses eksperimen untuk menemukan jenis kain yang sesuai dengan kebutuhan desain Puragraph.

“Memang kalau katun ini minusnya gampang lecek. Nah, di sini kita trial and error terus, bagaimana caranya katun kita ini masih tentu akan ada leceknya karena it's made from fiber. Cuma kita memilih kain yang lebih eksklusif di katun, di mana orang yang memakai itu nyaman,” jelas Maritza.

Mengolah Kain Sisa Menjadi Produk Baru

Semangat pemanfaatan material sisa tersebut juga hadir dalam rangkaian Purana melalui Purana Re, sebuah proyek yang meredefinisi konsep zero-waste luxury.

Proyek ini dirancang oleh Kika Puspitasari, pendiri Kaloka, dengan memanfaatkan kembali sisa kain perca dari arsip produksi Purana selama periode 2009 hingga 2025.

Kain-kain sisa tersebut tidak dibiarkan menjadi limbah, melainkan dirangkai dan diolah kembali menjadi busana statement. Setiap rancangan memiliki karakter yang unik karena dibuat dari kombinasi material yang berasal dari berbagai periode produksi, sehingga menghasilkan karya yang tidak dapat direplikasi secara identik.

Pemanfaatan kain perca tersebut tidak berhenti pada koleksi saat ini. Sisa material produksi akan disimpan untuk kembali diolah menjadi produk baru pada kegiatan atau koleksi berikutnya.

“Karena exhibition-nya ini less waste, jadi kita mengolah semua perca. Tas yang dibawakan model sendiri dibuat dari kain-kain sisa produksi kita menjadi sesuatu yang bagus,” tutur Maritza.

“Nantinya pada saat kita ada acara lagi dan mungkin akan sustain di koleksi-koleksi setelahnya, kita akan mengeluarkan tas dari kain perca yang kita simpan. Jadi, lebih berguna juga,” lanjutnya.

Sebagai informasi, koleksi Puragraph Vol. II | Minang telah tersedia dan dapat dibeli di Purana Store, Central Department Store Level Ground, Grand Indonesia. Puragraph juga menghadirkan produk secara offline di kawasan Kemang.

Baca Juga: Vicenza dan PURANA Usung Sustainability Lewat Kolaborasi Seni dan Home Living