Growthmates, kolaborasi antara dunia fesyen dan home living semakin membuka ruang baru bagi karya seni Indonesia untuk hadir lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Hal inilah yang ditunjukkan Vicenza melalui kolaborasinya dengan PURANA dalam gerakan kebudayaan nasional “PURANA 17: Renjana Perca” yang berlangsung pada 14–23 Agustus 2026 di Main Atrium, East Mall Level 1, Grand Indonesia, Jakarta.
Kolaborasi tersebut menjadi semakin istimewa karena berlangsung bertepatan dengan perjalanan 17 tahun PURANA sekaligus hampir tiga dekade perjalanan Vicenza di Indonesia.
Mengusung semangat keberlanjutan, keduanya mencoba membawa kekayaan motif dan seni Indonesia dari ranah fesyen ke dalam produk home living, khususnya tableware.
General Manager Vicenza Indonesia, Hanny, mengatakan, kolaborasi ini menjadi kesempatan bagi Vicenza untuk menyinergikan keindahan karya seni dengan benda-benda yang digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Hanny, proses menerjemahkan motif PURANA ke dalam media porselen bukan perkara sederhana. Salah satu tantangan terbesar adalah mempertahankan karakter warna dan gradasi motif ketika dipindahkan dari kain ke material porselen.

“Kalau kesulitan-kesulitannya itu lebih ke arah penyamaan warna. Misalnya PURANA itu kan punya burung. Burung-burungnya itu gradasi. Dan pada saat kita mau mengaplikasikan itu ke porselen, gradasi warna itu kan tidak bisa seperti dilukis,” terang Hanny, saat ditemui di acara PURANA: A 17-Year Renjana Perca Exhibition, yang digelar di Grand Indonesia, Main Atrium, East Mall Lantai 1, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Hanny lantas melanjtukan, tantangan lainnya muncul dari perbedaan karakter media. Jika kain memiliki permukaan yang relatif datar dan fleksibel, produk home living Vicenza hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari permukaan cembung, cekung hingga bagian yang memiliki detail tertentu.
“Medianya saya itu nggak cuma selebar kain seperti ini. Berlekuk-lekuk kadang-kadang. Kadang-kadang dia cembung, cekung, itu memang agak berbeda. Jadi, tantangannya itu kita harus mengolah lagi desain itu supaya bisa mencocokan kepada bentuk medianya,” jelas Hanny.
Menurut Hanny, proses tersebut membuat kolaborasi antara Vicenza dan para seniman menjadi sangat penting. Desain tidak sekadar ditempelkan begitu saja ke produk, tetapi perlu melalui proses penyesuaian agar motif dapat menyatu dengan karakter benda.
Ia pun mengatakan, tahap awal kolaborasi bahkan masih menggunakan mock-up atau tempelan kasar untuk melihat bagaimana motif bekerja pada bentuk produk. Setelah itu, desain dapat dikembangkan kembali melalui diskusi antara tim Vicenza dan seniman.
“Kebetulan saya kerjasamanya dengan banyak seniman yang mengerti. Mereka paham sekali. Pada saat kita berdiskusi, ‘ini loh sudah ditaruh seperti ini’, kemudian ‘oh, kurangnya kayaknya ini’. Coba yuk begini lagi,” kata Hanny.
Pengalaman Vicenza dalam mengolah beragam motif menjadi salah satu modal penting dalam kolaborasi tersebut. Selama perjalanannya, Vicenza telah menghadirkan berbagai motif, mulai dari padi, lili, marigold, ayam hingga beragam elemen dekoratif lainnya.
“Kita sudah terbiasa dengan atur ulang batiknya,” tutur Hanny.
Baca Juga: PURANA Rayakan 17 Tahun lewat Renjana Perca, Dorong Ekonomi Sirkular dan Sustainable Fashion