Bisnis klinik kecantikan di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya merawat kesehatan kulit. Di tengah persaingan yang semakin ketat, Bening's Clinic berhasil mencuri perhatian. Berawal dari satu klinik di Jambi, kini jaringan tersebut telah memiliki 74 cabang yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Di balik pertumbuhan tersebut, Founder dan CEO Bening Pratama Group, dr. Oky Pratama, meyakini bahwa keberhasilan sebuah bisnis tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya modal. Menurutnya, hal yang lebih penting adalah memiliki keunggulan yang membuat sebuah usaha berbeda dari para pesaingnya.
"Dalam membangun usaha, yang paling penting adalah diferensiasi. Kenapa orang harus memilih kita? Itu yang harus dijawab terlebih dahulu," ujar Dr. Oky dalam sebuah podcast dikutip Olenka pada Senin (13/07/2026).
Baca Juga: Perjalanan Bisnis Klinik Kecantikan ERHA yang Bertahan Lebih dari 25 Tahun
Ia menilai hampir semua sektor usaha memiliki kompetitor. Karena itu, pelaku bisnis perlu menawarkan nilai tambah yang jelas agar produknya memiliki alasan kuat untuk dipilih konsumen. Tanpa pembeda, sebuah bisnis akan sulit bersaing meski menawarkan produk yang serupa.
Prinsip tersebut menjadi fondasi ketika dr. Oky mendirikan Bening's Clinic pada 2017. Sejak awal, ia memutuskan untuk memposisikan kliniknya sebagai laser center, sebuah segmen yang saat itu belum banyak digarap, terutama di luar kota-kota besar.
"Kami hadir langsung mengambil posisi sebagai laser center terlengkap di Indonesia. Meskipun klinik pertama berada di daerah, kami tetap menghadirkan berbagai jenis teknologi laser," katanya.
Strategi itu diwujudkan dengan menghadirkan berbagai perangkat laser untuk perawatan kulit, seperti Pico Laser, Pico Genesis, Pico Cure, hingga teknologi lainnya yang digunakan untuk menangani beragam permasalahan kulit.
Baca Juga: 4 Rekomendasi Klinik Kecantikan Berbasis Teknologi di Indonesia
Tak hanya berfokus pada teknologi, dr. Oky juga menaruh perhatian besar pada kualitas produk yang digunakan. Ia mengatakan sejak awal seluruh produk skincare Bening's Clinic telah memiliki izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), diproduksi di bawah pengawasan dokter dan apoteker, serta mengantongi sertifikasi halal. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk membangun kepercayaan masyarakat di tengah tingginya permintaan terhadap produk perawatan kulit.
Hal lain yang menjadi ciri perjalanan bisnis Bening's Clinic adalah model ekspansinya. Berbeda dengan banyak jaringan klinik yang berkembang melalui sistem kemitraan atau franchise, seluruh cabang Bening's Clinic hingga kini masih dimiliki langsung oleh perusahaan.
"Dari satu klinik di Jambi, sekarang sudah menjadi 74 cabang di seluruh Indonesia. Tidak menggunakan sistem franchise, tidak ada investor, tidak profit sharing. Seluruhnya masih milik saya," ungkapnya.
Dengan model tersebut, perusahaan memiliki kendali penuh terhadap operasional setiap cabang, mulai dari standar pelayanan hingga kualitas produk dan layanan yang diberikan kepada pasien.
Perkembangan bisnis itu juga diiringi dengan berbagai penghargaan. Bening's Clinic pernah meraih Best in Beauty Clinic dan Best in Skin Care pada 2019, memperoleh rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai klinik kecantikan dengan perangkat laser terbanyak, hingga menerima penghargaan Superbrands Indonesia untuk kategori skincare dan beauty clinic.
Selain memperluas jaringan, perusahaan juga menggandeng sejumlah figur publik dan influencer untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya memilih perawatan kulit yang aman dan dilakukan oleh tenaga profesional.
Bagi dr. Oky, pengalaman membangun Bening's Clinic membuktikan bahwa sebuah bisnis tidak harus lahir di kota besar untuk berkembang secara nasional. Selama mampu membaca kebutuhan pasar dan menawarkan keunggulan yang jelas, peluang untuk tumbuh tetap terbuka lebar.
"Diferensiasi adalah kunci. Kalau bisnis kita tidak punya pembeda, orang tidak punya alasan untuk memilih kita dibandingkan yang lain," tutupnya.