PT Muliaglass bersama PT Muliakeramik Indahraya mengambil langkah strategis dalam mendukung transisi energi nasional melalui pemanfaatan energi terbarukan. Keduanya mengoperasikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap berskala besar di kompleks industri mereka di Cikarang, Bekasi.
Proyek ini merupakan hasil kolaborasi dengan PT Xurya Daya Indonesia (Xurya), serta didukung oleh pemerintah dan PLN. PLTS tersebut resmi mulai beroperasi pada Rabu (29/4/2026).
Direktur PT Mulia Industrindo Tbk, Ekman Tjandranegara, mengatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam memperkuat ketahanan energi sekaligus menjalankan agenda keberlanjutan.
Baca Juga: REZ Dinilai Mampu Tarik Investasi USD18 Miliar, Dorong Target PLTS 100 GW dalam Tiga Tahun
“Kami memilih langkah peningkatan keamanan energi sebagai komitmen perusahaan dalam mendukung keberlanjutan di Indonesia,” ujarnya.
Instalasi PLTS ini memiliki kapasitas sebesar 22,5 megawatt (MW) dan terdiri dari 36.862 panel surya yang mencakup area seluas 122.783 meter persegi, atau setara dengan sekitar 17 kali luas Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Direktur Manajemen Xurya, Eka Himawan, menjelaskan bahwa proyek ini dirancang untuk mendukung operasional industri tanpa mengganggu proses produksi.
“PLTS atap ini dapat beroperasi secara optimal dalam jangka panjang, sekitar 10 hingga 15 tahun, tanpa mengganggu aktivitas produksi. Ini menjadi pencapaian besar bagi industri,” jelasnya.
Baca Juga: Haleon Resmikan Penggunaan PLTS Atap di Fasilitas Produksi Pulo Gadung
Dari sisi lingkungan, pemanfaatan PLTS ini mampu menekan emisi karbon dioksida (CO₂) lebih dari 26,8 juta kilogram per tahun. Angka tersebut setara dengan kemampuan penyerapan karbon oleh sekitar 198 ribu pohon.
Selain itu, penggunaan energi surya juga berkontribusi dalam mengurangi ketergantungan terhadap batu bara hingga sekitar 20 ribu kilogram per tahun.
Direktur Utama PT Muliaglass, Ferdyan Khouw, menyebut bahwa penggunaan energi terbarukan ini turut mendukung target pengurangan emisi perusahaan.
Baca Juga: Resmikan PLTS Kedua, Primaya Hospital Teguhkan Komitmen Berkelanjutan
Ia menambahkan, pemanfaatan energi listrik dari PLTS juga memberikan efisiensi biaya operasional yang signifikan.
Dukungan terhadap proyek ini juga datang dari PLN. Vice President Pengelolaan Penjualan PLN, Yondri Zulfadli, mengapresiasi langkah tersebut sebagai bagian dari percepatan transisi energi menuju sistem yang lebih bersih.
Berdasarkan data PLN, kapasitas PLTS atap di Indonesia terus meningkat. Pada 2025 tercatat mencapai 801,63 MW, dan pada Maret 2026 meningkat menjadi 861,14 MW dengan total 11.840 pelanggan.
Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang menempatkan energi surya sebagai salah satu tulang punggung dalam mencapai target bauran energi terbarukan nasional.
Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kementerian Perindustrian, Emmy Suryandari, menilai bahwa kolaborasi antara industri dan pemerintah menjadi kunci dalam mendorong pemanfaatan energi bersih.
“Semakin banyak pihak yang berkomitmen menggunakan energi surya, baik industri maupun konsumen, akan sangat mendukung pencapaian target Kementerian ESDM,” ujarnya.