Haleon Indonesia, perusahaan global di bidang kesehatan konsumen di balik merek seperti Panadol, Sensodyne Actifed, dan Polident, mengumumkan pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap berteknologi tinggi di fasilitas manufakturnya di Pulo Gadung, Jakarta Timur. Inisiatif ini merupakan langkah signifikan Haleon dalam mendukung sistem operasional berkelanjutan dengan mengintegrasikan energi terbarukan sekaligus mendorong agenda transisi energi nasional.

Peresmian ini turut dihadiri oleh Prof. dr. Taruna Ikrar, M. Biomed., Ph.D. selaku Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Dr. Shanti Marlina, S.Si, Apt, M.Sc selaku Plt. Direktur Pengawasan Produksi Obat NPP BPOM, Dr. Sri Bimo Pratomo, ST., M.Eng selaku Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Perindustrian RI, serta Dita Novianti Sugandi Argadiredja, S.Si., Apt., MM. selaku Direktur Produksi dan Distribusi Farmasi Kementerian Kesehatan RI.

Baca Juga: Resmikan PLTS Kedua, Primaya Hospital Teguhkan Komitmen Berkelanjutan

PLTS Atap yang baru terpasang ini mencakup area seluas 2.382 meter persegi dengan 678 panel fotovoltaik berteknologi monocrystalline silicon berdaya tinggi. Instalasi PLTS Atap ini menjadikannya salah satu sistem energi surya yang paling maju yang diterapkan di fasilitas produksi Haleon secara global. Dengan kapasitas terpasang mencapai 416,97 kWp, sistem ini diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 577,647 kWh energi hijau per tahun, setara dengan 15% dari total kebutuhan energi pabrik.

Implementasi ini juga diperkirakan dapat mengurangi jejak karbon produksi manufaktur hingga 449 ton CO2 per tahun, setara manfaat penyerapan karbon oleh lebih dari 7.460 pohon setiap tahunnya. Pemasangan ini memperkuat penggunaan energi terbarukan di pabrik tersebut yang telah diimplementasikan sejak 2023 sebesar 7.368 MWh.

Prof. dr. Taruna Ikrar, M. Biomed., Ph.D., Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), menyebut, “Sebagai sektor yang berperan langsung dalam menjaga kesehatan masyarakat sehari-hari, industri consumer health tentu memiliki tanggung jawab strategis untuk memastikan ketersediaan produk yang aman, bermutu, serta berkelanjutan. Melalui inisiatif pemanfaatan energi surya ini, Haleon Indonesia mencerminkan bagaimana produsen dapat terus berinovasi dalam menghadirkan produk-produk yang membantu masyarakat sekaligus menerapkan praktik produksi yang selaras dengan regulasi dan perlindungan lingkungan.”

PLTS Atap ini memanfaatkan modul AR Coated Heat Strengthened Glass yang mampu menangkap cahaya matahari dari kedua sisi panel sehingga menghasilkan output energi hingga 4% lebih tinggi dibandingkan panel monofacial konvensional. Selain itu, sistem ini dilengkapi dengan inverter pintar berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence / AI) yang secara otomatis mengoptimalkan aliran energi secara real-time, serta dashboard energi terintegrasi Internet of Things (IoT). Teknologi ini memberikan visibilitas menyeluruh terhadap konsumsi energi operasional, memungkinkan tim manufaktur mengambil keputusan berbasis data sekaligus meminimalkan pemborosan energi.

Pabrik Haleon Indonesia di Pulo Gadung sendiri telah beroperasi sejak 1994 ini telah mempekerjakan ratusan tenaga kerja dan mengoperasikan beberapa lini produksi untuk berbagai kategori produk kesehatan konsumen untuk memenuhi kebutuhan Indonesia dan sejumlah negara di Asia Tenggara. Melalui penggunaan PLTS Atap, manufaktur ini memperluas keberlanjutan yang sebelumnya telah diterapkan dalam proses produksi, termasuk pengolahan limbah sampah dan efisiensi penggunaan sumber daya.

"Tujuan kami adalah menghadirkan kesehatan sehari-hari yang lebih baik dengan menjunjung nilai kemanusiaan, dan hal tersebut dimulai dari integritas cara kami beroperasi. Kami ingin masyarakat Indonesia yang mengandalkan produk kami setiap hari merasakan manfaat tidak hanya dari efektivitas produk, tetapi juga dari praktik produksi yang bertanggung jawab di baliknya," tandas Dhanica Dumo Mae-Tiu, Presiden Direktur Haleon Indonesia, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (23/1/2026).