Dikatakan Pritta, hal ini menunjukkan bahwa AI tidak lagi sekadar alat bantu, tetapi bisa menjadi bagian dari ekosistem belajar anak sejak awal.
Di satu sisi, lanjut dia, ini membuka peluang besar untuk pembelajaran yang lebih interaktif dan personal. Namun, di sisi lain, ada kekhawatiran terkait kualitas proses berpikir anak.
Pritta juga mengungkapkan bahwa saat ini masih ada beberapa aplikasi belajar yang dirancang sesuai dengan tahapan perkembangan anak, misalnya dengan pendekatan bertahap atau step-by-step dan tidak terlalu cepat atau fast-moving.
Namun, kata dia, dengan pesatnya perkembangan AI, bentuk dan pendekatan aplikasi ini di masa depan masih menjadi tanda tanya.
“Cuma kita enggak tahu nih dengan adanya AI sekarang, apps-apps ini, 4–5 tahun lagi pas si Gen Beta pakai, modelannya kayak gimana lagi nih,” bebernya.
Dijelaskan Pritta, kekhawatiran utama yang muncul adalah apakah teknologi tersebut justru akan membuat anak menjadi kurang terlatih dalam berpikir mandiri.
“Bikin makin males mikir apa enggak sih gitu ya. Nah, ini yang kayaknya mesti dijagain ya,” pungkasnya.
Baca Juga: Dian Sastrowardoyo Soroti Pentingnya Etika Digital Sejak Dini di Era Kecerdasan Buatan