Selanjtunya, aspek lain yang perlu mendapatkan perhatian adalah regulasi diri dan regulasi emosi. Kemampuan tersebut dapat memengaruhi berbagai aktivitas anak, termasuk proses belajar.
Erna memberikan gambaran sederhana mengenai bagaimana kondisi emosional dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam menghadapi tuntutan akademik.
Ketika seseorang sedang berada dalam kondisi mood yang kurang baik, misalnya, situasi tersebut dapat berpengaruh terhadap kesiapan menghadapi ujian.
“Misalkan kita lagi kondisi mood-nya lagi nggak baik, tapi besok ada ujian atau apa. Jadi kayak itu berpengaruh,” jelasnya.
Karena itu, berbagai aspek perkembangan anak sebenarnya tidak berdiri sendiri. Kemampuan regulasi emosi dapat berkaitan dengan proses belajar, kemampuan komunikasi dapat memengaruhi hubungan sosial, sementara life skills dapat mendukung kemandirian.
Semua kemampuan tersebut pada akhirnya saling memengaruhi dalam membantu anak mencapai tujuan perkembangannya.
“Semua aspek yang seperti Mbak Arissa pengen itu saling memengaruhi untuk mencapai sebuah goals,” kata Erna.
Dan, dalam proses membangun berbagai kemampuan tersebut, peran orang tua dan orang dewasa yang mendampingi anak menjadi sangat penting.
Dikatakan Erna, pendampingan tidak hanya berarti memberikan instruksi atau mengarahkan anak, tetapi juga menciptakan ruang bagi anak untuk belajar dan berkembang sesuai kebutuhannya.
Erna menilai, orang dewasa perlu membangun sinergi dalam mendukung perkembangan anak. Orang tua, sekolah, dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam kehidupan anak perlu memiliki pemahaman yang sejalan mengenai kebutuhan dan tujuan perkembangan anak.
“Jadi kita sebagai orang dewasa yang mendampingi anak, sebagai orang tua yang mendampingi anak, kita tentunya butuh sinergi secara bersama untuk menerapkan semua itu. Jadi balance,” ujarnya.
Erna pun menuturkan, pendampingan anak neurodivergent bukan hanya tentang bagaimana membantu mereka mencapai prestasi akademik, tetapi juga mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan secara lebih luas.
Orang tua dan orang dewasa di sekitar anak dapat berperan sebagai fasilitator yang membantu anak menemukan kemampuan, memahami emosinya, membangun hubungan sosial, serta belajar melakukan berbagai hal secara mandiri.
“Jadi kayak kita sebagai orang dewasa perlu untuk memfasilitasi anak, mengarahkan ataupun menjadi teman,” pungkas Erna.
Baca Juga: Tak Hanya soal Terapi, Ini Sederet Tantangan Orang Tua Anak Neurodivergent di Indonesia