Endang Aminudin Aziz merupakan salah satu tokoh penting yang berperan besar dalam melestarikan kekayaan bahasa daerah di Indonesia, Guru Besar Linguistik di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung itu telah mendapat pengakuan dunia internasional.
Ia menjadi satu-satunya orang Indonesia yang masuk dalam daftar TIME 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Bidang Kecerdasan Buatan (AI) tahun 2024.
Pengakuan dunia ini diberikan atas dedikasinya memanfaatkan kecerdasan buatan untuk melindungi dan mengembangkan bahasa-bahasa daerah di Indonesia yang totalnya mencapai lebih dari 700 bahasa daerah.
Baca Juga: Perpusnas Putar Otak Genjot Minat Baca Masyarakat Pedesaan dan Daerah Tertinggal
Dalam misinya melestarikan bahasa daerah, Aminudin menggabungkan kekayaan bahasa daerah dengan inovasi AI. Ia juga menggaet sejumlah universitas, pegiat bahasa, dan komunitas lokal yang kemudian menciptakan ratusan kamus digital dan perangkat AI yang mampu memantau vitalitas bahasa-bahasa lokal.
Keberhasilan lainnya harus tetap diingat bangsa ini adalah bagaimana Aminudin berjuang keras menjadikan bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa resmi dalam Konferensi Umum UNESCO, ini bisa terjadi berkat diplomasi panjang tanpa henti yang ia lakukan.
Berkat kerja kerasnya, Bahasa Indonesia kini bersanding dengan sejumlah bahasa sebagai bahasa resmi PBB seperti bahasa Inggris, Prancis, Arab, Mandarin, Rusia, Spanyol) serta tiga bahasa lain yang diakui UNESCO, yaitu Hindi, Portugis, dan Italia.
Pencetus Revitalisasi Bahasa Daerah dan Penguatan Literasi Nasional
Sebelum namanya dikenal luas dunia internasional, Aminudin memainkan peran penting ketika dirinya masih menjabat Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (2020–2025).
Program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) yang dilakukan Kemenristekdikti sejak 2022 lalu adalah gagasan yang lahir dari keresahannya melihat masa depan bahasa daerah di berbagai wilayah Indonesia yang terancam punah.
Tujuan Aminudin sederhana, salah satunya adalah menggaet penutur muda aktif serta memastikan ekosistem bahasa dan sastra daerah tetap hidup lintas generasi.
Selain itu Aminudin juga mencetus Penguatan Literasi Nasional lewat Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS). Program ini sukses besar, secara kumulatif sejak dimulai, program TPBIS ini telah menjangkau lebih dari 13,9 juta masyarakat di seluruh Indonesia.
Rekam Jejak Aminudin
Sepanjang kariernya, Aminudin lebih banyak mendedikasikan diri di bidang pendidikan terutama yang terkait dengan masalah kebahasaan dan literasi.
Ia masuk di pemerintahan pada 2020 setelah diangkat menjadi Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, jabatan itu ia lepas pada 2025 setelah ia dipercaya menjadi Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang ia emban sampai sekarang. Dua jabatan terakhir ini adalah penyempurna perjalanan panjang kariernya di dunia pendidikan.
Aminudin memulai kariernya sebagai sebagai guru bahasa Inggris di SMP Islam Al-Falah, Bandung, Jawa Barat. Jalan nasib membawanya melangkah lebih jauh, setelah menata karier menjadi pendidik di jenjang pendidikan menengah ia menjadi dosen dan profesor bidang pragmatik linguistik di UPI serta Wakil Rektor Bidang Akademik.
Baca Juga: Kapasitas Intelektualnya Gawat, Wapres Gibran Layak Dilengserkan!
Tidak sampai di situ saja, ia kemudian mengabdi sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di London pada 2016 hingga 2020 sebelum dipercaya memimpin Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada 2020 hingga 2024.
Aminudin merupakan jebolan Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Indonesia pada 1991,gelar Magister dan Doktor Linguistik ia berhasil ia rengkuh di Monash University, Australia.