Fenomena ini menunjukkan bahwa kepemilikan aset tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan likuiditas.
Menurut Benedictus, banyak individu memiliki investasi dalam berbagai bentuk, seperti properti, bisnis, hingga aset digital, namun kesulitan mencairkannya dalam waktu singkat saat dibutuhkan.
“Jadi menurut saya segala sesuatu yang bisa membantu para pasien kita untuk bisa dengan cepat, mungkin ada investasi di sini, di sana, mungkin di crypto dan sebagainya,” kata Benedictus.
Lebih lanjut, ia juga melihat adanya peluang kolaborasi antara sektor kesehatan dan keuangan untuk menjawab tantangan ini.
Dalam pengamatannya, akses terhadap solusi finansial yang cepat dan fleksibel dapat menjadi penyelamat bagi pasien yang membutuhkan tindakan medis segera.
“Saya juga sering bertemu dengan pihak perbankan juga, bagaimana caranya untuk para pasien ini yang mungkin punya aset dan sebagainya, tapi mereka kesulitan untuk melikuidasi aset itu hanya untuk sesi itu saja dengan cepat. Karena kadang-kadang tindakannya itu perlu dilakukan dengan cepat,” tuturnya.
Terakhir, Benedictus menegaskan bahwa inovasi di sektor finansial, seperti pembiayaan kesehatan atau skema likuiditas cepat berbasis aset, bisa menjadi solusi penting ke depan.
“Jadi segala sesuatu yang menurut saya bisa membantu itu merupakan suatu peluang juga untuk pihak financial juga yang juga bisa tentunya membantu para pasien kita untuk bisa berobat dengan cepat,” pungkasnya.
Baca Juga: Mengenal Leona A. Karnali, Reformator yang Memimpin Ekspansi Besar-besaran Primaya Hospital Group