Co-founder sekaligus Presiden Direktur Mandaya Hospital Group, Benedictus Widaja, menilai bahwa industri kesehatan Indonesia memiliki peluang besar untuk berbenah dengan belajar dari negara tetangga, khususnya Malaysia.

Menurutnya, keberhasilan Malaysia dalam menarik pasien internasional, termasuk dari Indonesia, tidak terjadi secara instan, melainkan melalui peningkatan kualitas layanan dan efisiensi biaya secara konsisten.

Benedictus menekankan bahwa kepercayaan pasien menjadi kunci utama dalam layanan kesehatan. Bukan hanya soal diagnosis yang akurat, tetapi juga keyakinan bahwa tindakan medis yang diberikan tepat serta sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.

“Bisa memberikan diagnosa yang baik, rasa percaya apakah tindakannya juga bisa bagus, rasa percaya apakah ini benar-benar value for money, menurut saya itu kan hal yang penting,” papar Benedictus, dalam sebuah video sebagaimana dikutip Olenka, Rabu (22/4/2026).

Benedictus mengingatkan bahwa sekitar 10–15 tahun lalu, arus pasien di kawasan Asia Tenggara didominasi oleh Singapura. Bahkan, kata dia, masyarakat Malaysia sendiri banyak yang berobat ke Singapura. Namun, situasi kini telah berubah.

“Sekarang kan banyak sekali, mungkin lebih banyak orang Indonesia yang berobat ke Malaysia daripada Singapura karena harga dan kualitasnya juga sudah mulai meningkat,” jelasnya.

Perubahan ini, menurutnya, menjadi bukti bahwa peningkatan kualitas layanan kesehatan dapat menggeser preferensi pasien secara signifikan. Hal tersebut sekaligus menjadi refleksi bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalan.

Pengalaman pribadi Benedictus saat menempuh pendidikan dan bekerja di luar negeri pun turut membuka wawasannya mengenai kesenjangan kualitas layanan kesehatan.

“Ketika saya kuliah kedokteran dan kerja juga di Inggris, that’s when I realize bahwa ternyata segitu banyak gap di Indonesia terhadap health care quality yang kita berikan kepada pasien itu segitu banyaknya,” tuturnya.

Baca Juga: Mengenal Sosok Winston Utomo, Founder dan CEO IDN dengan Prestasi Mentereng