Data pun mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan. Stanford Digital Economy Lab mencatat penurunan 13% dalam perekrutan tingkat pemula untuk pekerjaan yang rentan terhadap AI sejak kemunculan model bahasa besar. Sektor seperti pengembangan perangkat lunak, layanan pelanggan, dan administrasi menjadi yang paling terdampak.

Namun, gambaran ini tidak sepenuhnya gelap. World Economic Forum memperkirakan bahwa meskipun 92 juta pekerjaan bisa hilang pada 2030, sekitar 170 juta peran baru juga akan tercipta. Artinya, perubahan ini lebih merupakan transformasi daripada kehancuran total pasar kerja.

Meski begitu, transisi ini tidak mudah bagi semua orang. Kisah nyata dari pekerja di lapangan menunjukkan tekanan yang semakin terasa.

Seorang mantan profesional pemasaran di California, misalnya, terpaksa beralih karier setelah pekerjaannya tergantikan oleh AI. Ironisnya, ia justru harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk memeriksa konten yang dihasilkan AI dibanding saat menulisnya sendiri dengan bayaran yang lebih kecil.

Di sisi lain, ada juga yang memilih langkah drastis sejak dini. Seorang editor akademis berpengalaman memutuskan meninggalkan profesinya dan belajar di sekolah kuliner, mencari bidang yang dianggap lebih 'aman' dari otomatisasi dalam waktu dekat.

Menurut Carl Benedikt Frey, pekerjaan manual memang cenderung lebih sulit diotomatisasi dibanding pekerjaan digital.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa dampak AI akan menjangkau hampir semua industri. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, AI kini sudah mampu membantu menyelesaikan masalah teknis tanpa bantuan profesional.

Lalu, apakah ini saatnya panik? Tidak juga. Perubahan ini nyata, tetapi bukan berarti semua pekerjaan akan hilang dalam waktu dekat.

Yang lebih penting adalah memahami arah pergeseran, dari tugas rutin ke peran yang membutuhkan kreativitas, penilaian manusia, dan pemikiran strategis.

Baca Juga: Dian Sastrowardoyo Soroti Pentingnya Etika Digital Sejak Dini di Era Kecerdasan Buatan