Indonesia tercatat berada di peringkat ke-12 dalam daftar negara dengan rata-rata skor IQ terendah versi International IQ Test (IIT) 2025. Temuan yang berasal dari lebih dari 1,3 juta peserta tes daring di berbagai negara ini kembali memicu diskusi mengenai bagaimana kemampuan kognitif diukur dan sejauh mana hasilnya dapat merepresentasikan suatu bangsa.
Dalam konteks ini, IQ atau Intelligence Quotient merupakan skor yang diperoleh melalui tes untuk mengukur sejumlah kemampuan kognitif, seperti penalaran, pemecahan masalah, memori, dan kecepatan memproses informasi.
Namun, penting untuk dicatat bahwa pemeringkatan ini disusun berdasarkan tes online yang diikuti secara sukarela. Artinya, hasil tersebut tidak dapat dijadikan ukuran mutlak untuk menentukan tingkat kecerdasan seluruh penduduk suatu negara. Jumlah peserta yang berbeda di setiap negara, metode pengumpulan data, akses pendidikan, hingga faktor sosial ekonomi dapat memengaruhi hasil akhir.
Baca Juga: Daftar Kota Terbaik untuk Kuliah di Indonesia, Yogyakarta 'Kota Pelajar' Bukan Nomor 1!
Berdasarkan data International IQ Test (IIT) 2025, berikut 10 negara dengan rata-rata skor IQ terendah:
- Somalia – 83,84
- Timor-Leste – 86,70
- Rwanda – 86,90
- Nikaragua – 87,85
- Angola – 87,98
- Gabon – 88,35
- Uganda – 88,49
- Republik Demokratik Kongo – 88,60
- Afghanistan – 89,31
- Tanzania – 89,57
Somalia menempati posisi pertama dalam daftar ini dengan skor rata-rata 83,84. Sementara Timor-Leste berada di posisi kedua dengan skor 86,70, diikuti Rwanda dengan skor 86,90.
Mayoritas negara yang masuk dalam daftar tersebut masih menghadapi tantangan pembangunan, termasuk akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, serta kondisi sosial ekonomi yang dapat memengaruhi perkembangan sumber daya manusia.
Baca Juga: Indonesia Masuk Daftar! Ini 10 Negara Paling Tidak Jujur di Dunia Menurut Penelitian
Lantas, bagaimana dengan Indonesia?
Dalam pemeringkatan IIT 2025, Indonesia tercatat memiliki skor rata-rata 89,96 dan berada di posisi ke-12 dari bawah. Meski demikian, hasil ini perlu dibaca secara hati-hati dan tidak dapat diartikan sebagai gambaran tunggal mengenai kemampuan intelektual masyarakat Indonesia.
Sejumlah peneliti menilai bahwa kemampuan kognitif seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pendidikan, gizi, kesehatan, lingkungan, hingga kesempatan memperoleh stimulasi dan pembelajaran sejak usia dini.
Selain itu, tes daring yang diikuti secara sukarela memiliki keterbatasan dalam hal representasi populasi. Dengan kata lain, peserta yang mengikuti tes belum tentu mencerminkan kondisi demografis suatu negara secara keseluruhan.
Karena itu, pemeringkatan IQ antarnegara lebih tepat dipahami sebagai hasil dari dataset dan metode pengujian tertentu, bukan sebagai label permanen terhadap tingkat kecerdasan suatu bangsa.
Dengan begitu, daftar ini dapat menjadi bahan diskusi mengenai pentingnya investasi di bidang pendidikan, kesehatan, dan pembangunan sumber daya manusia. Sebab, berbagai penelitian menunjukkan bahwa lingkungan yang mendukung memiliki peran besar dalam membentuk kemampuan kognitif dan kualitas hidup masyarakat dalam jangka panjang.