Presiden Prabowo Subianto mengatakan, impor barang-barang dari luar negeri mesti mulai direm, dia mengatakan ketergantungan pada barang impor adalah sesuatu yang sangat berbahaya, apalagi ketergantungan impor pada negara-negara yang sedang berkonflik. 

Saat ini, Indonesia memang masih mengimpor berbagai kebutuhan, salah satunya adalah impor pangan dari negara-negara yang sedang bergejolak seperti Thailand dan Kamboja. Dia mengatakan, stabilitas pangan nasional bisa ikut terganggu jika Indonesia masih bergantung pada kedua negara yang bergejolak tersebut. 

Baca Juga: Bahlil Beber Kondisi Koalisi Pemerintahan Prabowo

"Sekarang, Thailand dan Kamboja perang terus. Setelah perang, negosiasi, gencatan senjata, damai, kemudian meletus lagi. Dalam keadaan seperti itu, bayangkan, amankah kita tergantung impor dari negara yang konflik?” katanya dalam retret dikutip Rabu (7/1/2026).

Prabowo mengaku, pada tahun-tahun sebelumnya Indonesia kerap mengimpor beras dari kedua negara tersebut untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Namun, konflik berkepanjangan di antara Thailand dan Kamboja berpotensi mengganggu rantai pasok dan suplai beras apabila ketergantungan impor terus berlanjut.

Selain itu, Presiden Prabowo juga mengingatkan pengalaman pahit pada masa pandemi COVID-19, ketika sejumlah negara pengekspor pangan menutup pintu ekspornya demi mengamankan kebutuhan domestik masing-masing.

Kondisi tersebut membuat banyak negara, termasuk Indonesia, kesulitan mengimpor pangan meski memiliki kemampuan finansial.

Oleh karena itu, Presiden Prabowo menegaskan bahwa target swasembada pangan yang dijalankan pemerintah saat ini sudah sangat tepat dan relevan untuk mengantisipasi ketidakpastian global.

Dia menyebut swasembada pangan merupakan bagian dari strategi transformasi nasional yang disusun secara tertulis, terukur, dan berbasis kajian jangka panjang guna memperkuat kemandirian bangsa.

“Bangsa Indonesia harus mandiri. Bangsa Indonesia harus berdikari, dan di situ elemen utamanya adalah swasembada pangan. Tidak ada bangsa yang merdeka bilamana bangsa itu tidak bisa menjamin makan untuk rakyat,” kata Presiden.

Lebih lanjut, Prabowo mengatakan bahwa Indonesia telah mampu menghindari risiko impor tersebut setelah berhasil mencapai swasembada pangan pada tahun lalu.

Baca Juga: Tegur Para Menteri, Prabowo Minta Kabinet Merah Putih Bekerja Lebih Giat

Hal itu, lanjut Presiden Prabowo, dibuktikan dengan jumlah cadangan beras pemerintah pada kisaran tiga juta ton per 31 Desember 2025.

“Dan saya juga cukup merasa besar hati, bangga, bahwa hari ini cadangan beras di gudang-gudang pemerintah

Indonesia adalah yang tertinggi selama sejarah berdirinya Indonesia,” katanya.