Komisaris Utama Gunanusa Eramandiri, Gunawan Tjokro, mengingatkan generasi muda agar tidak melupakan nilai fundamental dalam kehidupan bermasyarakat, yaitumenghormati orang tua.

Di tengah laju modernisasi, kemajuan teknologi, dan perubahan gaya hidup, nilai ini menurutnya justru semakin relevan untuk dijaga.

Gunawan menekankan bahwa penghormatan kepada orang tua bukan sekadar norma sosial, melainkan cerminan dari daya juang, karakter, dan kematangan moral seseorang.

Ia pun lalu mencontohkan fenomena yang terjadi di Singapura sebagai pelajaran penting bagi generasi muda.

Menurut Gunawan, pada awalnya pemerintah Singapura mendorong para lansia tetap bekerja bukan karena faktor ekonomi, melainkan demi menjaga kesehatan fisik dan mental mereka.

“Itu dia pernah mengatakan program orang-orang tua itu harus dikasih pekerjaan. Tetapi waktu itu alasan utamanya bukan ekonomi, tapi adalah kesehatan. Supaya orang-orang tua tetap bergerak,” tutur Gunawan, dalam sebuah video sebagaimana dikutip Olenka, Selasa (113/1/2025).

Gunawan pun lantas mencontohkan keberadaan lansia yang bekerja di bandara atau ruang publik lainnya.

“Makanya kalau you di airport, kemudian banyak yang mereka dipekerjakan. Tujuannya bukan untuk ekonomi sebenarnya, adalah untuk kesehatan, supaya ada kegiatan,” jelasnya.

Saat itu, lanjut Gunawan, kondisi ekonomi para pensiunan relatif aman karena Singapura memiliki sistem jaminan sosial yang kuat.

“Karena mereka punya sistem CPF-nya bagus. Orang udah pensiun itu dapet dari pemerintahan itu cukup,” ujarnya.

Namun, lanjut dia, situasi tersebut kini berubah.

Gunawan mengungkapkan bahwa berdasarkan wawancaranya dengan generasi muda dari berbagai latar belakang di Singapura, terjadi pergeseran signifikan. Banyak lansia yang kini bekerja bukan lagi demi kesehatan, melainkan untuk bertahan hidup.

“Sekarang orang-orang tua yang bekerja sebagai sopir taksi, kemudian di airport, kemudian di mal-mal. Itu bukan karena cari kesehatan, mereka cari uang. Karena santunan dari pemerintah itu tidak bisa mencukupi lagi kebutuhan hidup yang sangat mahal di Singapura,” bebernya.

Ia juga menyoroti faktor lain yang tak kalah memprihatinkan, yakni renggangnya hubungan antara anak dan orang tua.

“Kedua, anak-anaknya sibuk dengan keluarganya sendiri dan mereka sudah tidak memperdulikan orang tuanya,” tukasnya.

Baca Juga: Komut Gunanusa Eramandiri: Situasi Hidup Sulit Melahirkan Empati

Fenomena ini, menurut Gunawan, menjadi peringatan keras bahwa kemajuan teknologi dan modernitas tidak boleh menggerus nilai kemanusiaan.

“Tidak peduli itu teknologi sampai kemana, ini hal-hal yang begini. Daya juang kita, semangat kita, penghormatan kita kepada orang senior, kepada orang tua,” papar Gunawan.

Gunawan pun menegaskan bahwa menghormati orang tua tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk materi. Ada hal-hal sederhana namun sangat bermakna yang bisa dilakukan generasi muda.

“Untuk membuat orang tua, hormat orang tua itu banyak caranya. Yang pertama, jangan bikin orang tua pusing. Itu yang pertama,” ujarnya.

Selain itu, kata dia, prestasi dan perilaku positif anak juga menjadi sumber kebanggaan tersendiri bagi orang tua.

“Yang kedua, berprestasilah supaya orang tua bangga dengan keberadaan Anda,” tegasnya.

Dan, bantuan finansial, menurut Gunawan, justru berada di urutan berikutnya.

“Yang ketiga, kalau you punya lebih dan orang tua kurang, kasih uang. Jadi orang tua itu mengharapkan uang itu nomor tiga. Coba tanya orang-orang tua yang di depan sini. Nomor tiga,” paparnya.

Ia pun lantas menutup pesannya dengan penekanan bahwa sikap dan tindakan anak sehari-hari jauh lebih berarti bagi orang tua dibandingkan apa pun.

“Oleh sebab itu, tindakan-tindakan kita jangan membuat orang tua pusing,” tandas Gunawan.

Baca Juga: Warisan Nilai Hidup Ciputra untuk Anak, Cucu, dan Generasi Penerus