Founder Mayapada Group, Dato Sri Tahir, berpesan bahwa nilai paling berharga bagi seorang pengusaha adalah integritas. Ia menekankan, seorang pengusaha harus menjaga integritas dengan sebaik mungkin. Seorang pengusaha tak boleh menggadaikan, memperjualbelikan, apalagi melacurkan integritas tersebut.

Dato Sri Tahir menegaskan bahwa dirinya tidak akan pernah mau menukar integritas dengan kekayaan dan kemewahan. Ia lebih memilih untuk hidup miskin dan sengsara daripada harus menjadi seorang pencoleng.

"Saya tidak mau kompromi, saya tidak mau melacur. Integritas itu tidak boleh diperjualbelikan. Saya lebih baik hidup miskin dan sengsara daripada menjadi seorang pencoleng," katanya sebagaimana dikutip oleh Olenka di Jakarta, Senin (27/4/2026).

Baca Juga: Tahir dan Kebiasaan Beramal serta Teladan Sang Ibunda

Tahir memang dikenal sebagai konglomerat yang memiliki nilai integritas tinggi. Perusahaan konglomerasi Mayapada Group dikenal publik secara luas hampir tak pernah berbisnis secara business to government (B2G) untuk menghindari konflik kepentingan.

Sosok pribadi Dato Sri Tahir pernah diminta untuk membantu pemerintah sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia.

"Saya belum pernah makan dari proyek pemerintah. Saya tidak mau," tegasnya.

Tahir mengatakan, salah satu kesalahan yang kerap dilakukan oleh generasi muda yang terjun ke dunia usaha adalah cenderung ingin memperoleh kekayaan dan kesuksesan secara instan. Ia menilai, perkembangan teknologi turut membentuk persepsi bahwa kesuksesan finansial dapat diraih dengan cepat pada usia muda seperti Mark Zuckerberg, Larry Page, hingga Sergey Brin.

Ia menegaskan, kesuksesan merupakan hasil dari proses yang konsisten dan terus-menerus. Ia mengingatkan bahwa keengganan untuk menjalani proses tersebut akan mendorong generasi muda untuk mengambil jalan pintas yang dapat mengorbankan integritas.

"Anak muda sekarang itu mau cepat kaya karena merasa ada teknologi. Itu suatu kesalahan yang fatal. Banyak sekali anak muda yang memulai usaha itu langsung berpikir untuk cepat kaya dan mengabaikan proses," ujarnya.

Pria kelahiran Surabaya ini mengingatkan bahwa hal yang terpenting bagi seorang pengusaha adalah membangun fondasi sekaligus menjalani setiap proses usaha dengan penuh integritas. Ia menjelaskan bahwa nilai integritas itu mencakup sikap disiplin, komitmen, kejujuran, hingga ketekunan.

"Generasi muda itu harus berpikir untuk membina suatu usaha dengan disiplin, komitmen, ketekunan, ketulusan, hingga kejujuran dalam usaha," tegasnya.

Tahir mengaku sangat sedih dan prihatin melihat fenomena banyaknya generasi muda di Indonesia yang tergoda oleh iming-iming kekayaan instan hingga berujung pada persoalan hukum.

Ia sangat menyayangkan hal tersebut karena generasi muda di Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan usaha yang bisa berdampak dan memberikan kontribusi positif bagi kemajuan bangsa dan negara.

"Kalau you memulai usaha, memang sangat mungkin untuk langsung maju sekali. Tetapi tetap jaga kejujuran dan integritas. Jangan langsung buru-buru ingin membeli mobil sport tetapi akhirnya masuk penjara," pungkasnya.