Penyakit kardiovaskular masih menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di Indonesia. Berdasarkan data World Heart Federation, hampir 700 ribu orang meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah sepanjang 2024.
Tak hanya itu, berbagai studi menunjukkan tren yang terus meningkat. Dalam tiga dekade terakhir, angka kematian akibat penyakit kardiovaskular di Indonesia tercatat meningkat lebih dari dua kali lipat. Kondisi ini menunjukkan semakin besarnya beban penyakit jantung, baik bagi masyarakat maupun sistem kesehatan nasional.
Baca Juga: AstraZeneca Gandeng Siloam dan PERKI Tingkatkan Penanganan Gagal Jantung di Indonesia
Salah satu kondisi yang menjadi perhatian adalah gagal jantung. Penyakit ini merupakan tahap akhir dari berbagai penyakit kardiovaskular yang dapat menurunkan kualitas hidup pasien, meningkatkan risiko rawat inap berulang, hingga menyebabkan kematian apabila tidak ditangani secara optimal.
Meningkatnya prevalensi hipertensi, diabetes, penyakit jantung koroner, serta bertambahnya populasi lanjut usia membuat kebutuhan akan layanan gagal jantung yang komprehensif dan berkualitas semakin mendesak.
Wakil Ketua Kelompok Kerja (POKJA) Gagal Jantung Pengurus Pusat Perkumpulan Kardiologi Indonesia (PP PERKI), dr. Wahyu Aditya, SpJP(K), FIHA, mengatakan gagal jantung merupakan kondisi yang kompleks sehingga membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dan berbasis bukti ilmiah terkini.
Baca Juga: Baru Mulai Olahraga? Dokter Jantung Bagikan Cara Aman agar Jantung Tidak Kaget
"Gagal jantung merupakan kondisi yang kompleks dan membutuhkan pendekatan yang komprehensif serta berbasis bukti ilmiah terkini. Program seperti HeartPUMP menjadi sarana penting untuk menjembatani perkembangan ilmu pengetahuan dengan praktik klinis sehari-hari," ujar dr. Wahyu dalam keterangan resmi, Selasa (04/08/2026).
Menurutnya, semakin banyak dokter yang memperoleh kesempatan belajar langsung dari pusat layanan yang berpengalaman, semakin besar pula peluang pemerataan standar penanganan gagal jantung di berbagai daerah.
Baca Juga: BPOM Bongkar 4 Merek Kopi yang Mengandung Obat Keras, Bisa Picu Serangan Jantung hingga Kematian
"Dengan semakin banyak dokter yang mendapatkan kesempatan belajar secara langsung dari pusat layanan yang berpengalaman, kami berharap standar penanganan gagal jantung dapat semakin merata," tambahnya.
Sebagai salah satu upaya meningkatkan kualitas layanan, AstraZeneca Indonesia bersama PP PERKI dan Siloam Hospitals Kebon Jeruk menjalin kolaborasi melalui program HeartPUMP. Program pendidikan medis berkelanjutan tersebut bertujuan meningkatkan kompetensi dokter spesialis jantung dalam diagnosis dan tata laksana gagal jantung melalui observasi klinis, diskusi kasus, serta pertukaran pengalaman.
Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia, Esra Erkomay, mengatakan kolaborasi antara industri kesehatan, organisasi profesi, dan institusi layanan kesehatan menjadi salah satu kunci untuk memperkuat penanganan gagal jantung di Indonesia.
Baca Juga: Penyakit Jantung Bawaan Baru Ketahuan Saat Dewasa, Apa Bedanya dengan yang Terdeteksi Sejak Lahir?
"Melalui program HeartPUMP, kami ingin mendukung lebih banyak tenaga kesehatan untuk mengakses pembelajaran yang relevan dan berbasis praktik sehingga semakin banyak pasien gagal jantung dapat memperoleh diagnosis yang tepat, tata laksana yang optimal, dan kualitas hidup yang lebih baik sekarang maupun di masa depan," kata Esra.
Program HeartPUMP sendiri telah berjalan sejak 2025 dan sebelumnya menggandeng sejumlah rumah sakit rujukan nasional. Bergabungnya Siloam Hospitals Kebon Jeruk sebagai rumah sakit swasta pertama dalam jejaring tersebut diharapkan dapat memperluas akses tenaga kesehatan terhadap pembelajaran klinis berbasis praktik sekaligus mendukung pemerataan layanan gagal jantung di Indonesia.