Penyakit jantung koroner masih menjadi kasus kardiovaskular yang paling banyak ditangani Heartology Cardiovascular Hospital. Selain penyumbatan pembuluh darah koroner, rumah sakit tersebut juga menemukan berbagai gangguan lain, mulai dari aritmia, penyakit jantung bawaan, hingga kelainan katup jantung.

President Director Heartology Cardiovascular Hospital, dr. Ridwan Tjahjadi Lembong MM, MMRS, MBA, mengatakan kasus penyumbatan pembuluh darah koroner masih mendominasi pasien yang datang untuk mendapatkan penanganan.

Temuan tersebut diperoleh melalui pemeriksaan kesehatan atau medical check-up (MCU), maupun dari pasien yang datang dengan keluhan tertentu, seperti nyeri dada.

"Kasus terbanyak masih koroner. Sumbatan koroner. Jadi kita temuin dari medical check-up, ataupun dari keluhannya di dada," ujar Ridwan dalam wawancara pada kegiatan CARES (Cardiac & Vascular Excellence Scientific Update) 2026 di The Westin Jakarta, Sabtu (31/10/2026).

Baca Juga: Dokter Jantung Ingatkan Bahaya Merokok dan Nge-vape Sebelum hingga Setelah Olahraga

Ia menjelaskan, pemeriksaan lanjutan dapat mengungkap berbagai gangguan jantung lain yang mungkin menjadi penyebab keluhan pasien. Beberapa di antaranya adalah aritmia atau gangguan irama jantung, penyakit jantung bawaan, serta kelainan struktural pada jantung, termasuk gangguan katup.

Menurut Ridwan, keluhan yang dirasakan pasien bisa saja terlihat serupa, tetapi penyebabnya belum tentu sama. Karena itu, pemeriksaan dan skrining diperlukan untuk mengetahui jenis gangguan yang dialami pasien sekaligus menentukan penanganan yang tepat.

Deteksi Dini Bisa Dimulai dengan Meraba Nadi

Selain melakukan pemeriksaan kesehatan di fasilitas medis, Ridwan mengingatkan masyarakat agar lebih memperhatikan kondisi denyut nadi sebagai salah satu langkah awal mengenali kemungkinan gangguan jantung.

Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan adalah melalui metode Meraba Nadi Sendiri. Masyarakat bisa memperhatikan apakah denyut nadi terasa teratur atau justru memiliki pola yang tidak beraturan.

"Coba kita perhatiin nadi kita, ada nge-beat-nya enggak? Ada offbeat-nya enggak? Kalau ada, mesti periksain diri," ungkap Ridwan.

Baca Juga: Studi: Inflamasi Kardiovaskular Masih Jadi Ancaman Besar bagi Pasien Penyakit Jantung

Ia menambahkan, masyarakat tidak harus menggunakan peralatan medis canggih untuk mulai mengenali kondisi denyut nadinya. Namun, apabila menemukan irama denyut yang tidak teratur, pemeriksaan lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan penyebabnya.

Deteksi dini menjadi langkah penting agar gangguan kardiovaskular dapat diketahui sejak awal dan ditangani sesuai kondisi masing-masing pasien. Dengan begitu, risiko keterlambatan penanganan akibat penyakit yang belum teridentifikasi dapat diminimalkan.