Sugi Nur Raharja alias Gus Nur melontarkan sindiran tajam kepada mantan Menko Polhukam Mahfud MD. Ia menyinggung sikap Mahfud yang kini mengkritik Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan menyebut lembaga tersebut harus diseret ke pengadilan.

Gus Nur mengklaim persoalan KPU dan demokrasi sudah lama menjadi bahan kritiknya, bahkan sejak 2018. Namun, ia mempertanyakan mengapa Mahfud baru menyuarakan kritik tersebut setelah tidak lagi berada di dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Ia bahkan menyebut Mahfud pernah menjadi bagian dari kelompok yang diistilahkannya sebagai "ternak Mulyono", sebutan yang diarahkan kepada para pendukung Jokowi.

"Pak Mahfud MD, apa yang anda katakan hari ini, (KPU harus diseret ke pengadilan. Ini adalah perusakan terhadap peradaban). Itu sudah saya serukan, sudah saya teriakkan dari tahun 2018. Ya, sudah saya teriakkan," ujar Gus Nur, dikutip Selasa (03/11/2026).

Baca Juga: Mahfud MD Singgung Nasib Kursi Wapres Gibran Usai MA Batalkan Suket Ijazah, Kini Tinggal...

Gus Nur kemudian mengungkit posisi Mahfud ketika masih menjadi pejabat pemerintahan. Ia juga menyinggung momen Mahfud mengenakan pakaian putih menjelang agenda pelantikan dalam kontestasi politik.

"Waktu itu anda bergabung ke rezim, waktu itu anda masih jadi pejabat. Bahkan kalau boleh saya katakan, mohon maaf kalau tidak sopan, waktu itu anda juga salah satu ternak Mulyono," tukasnya.

"Ya kan, masih ingat di kepala kita semua betapa Anda waktu itu dengan gagah, berani, sudah bawa baju putih, mau dilantik jadi wapres atau apa itu lupa saya," ucap dia.

Menurut Gus Nur, perubahan sikap sejumlah pejabat setelah tidak lagi berada di pemerintahan menjadi pelajaran penting. Ia menilai jabatan dan kedekatan dengan penguasa dapat memengaruhi konsistensi seseorang dalam menyampaikan kritik.

"Ini pelajaran untuk semua pejabat ya, untuk semua orang-orang yang seperti Pak Mahfud MD ini ya, seperti Rocky Gerung, Mahfud MD, siapa lagilah," jelasnya.

Baca Juga: Katanya Lebih Pintar dari Hatta dan Habibie tapi Ijazahnya Gaib, Mahfud: Demokrasi Dirusak, KPU Meng-Gibrankan Regulasi Pemilu!

Ia pun mengingatkan para pejabat, aparat, hakim, dan tokoh publik agar tidak terjebak kepentingan jabatan maupun menjadi pendukung kekuasaan tanpa sikap kritis.

"Bahwa sudahlah, kalau posisi ya oposisi, dunia akhirat jadi oposisi ya kan? Pokoknya intinya jangan jadi penjilat gitu loh, ya kan?" tegasnya.

Gus Nur juga menyindir tokoh yang menurutnya masih berusaha menjaga kedekatan dengan penguasa meskipun sudah tidak menjabat. Ia mencontohkan fenomena perpindahan dukungan politik yang disebutnya dilakukan demi memperoleh posisi di pemerintahan.

"Bahkan ketika Anda tidak menjabat pun ya, kan Anda masih menjilat, masih memuji-muji rezim supaya Anda dapat jabatan. Kutu loncat kayak Ngabalin, ya kan," timpalnya.

Meski melontarkan kritik keras, Gus Nur mengakui pernyataan Mahfud mengenai KPU tetap lebih baik dibandingkan tidak menyampaikan kritik sama sekali. Ia mengaku hanya merasa geli melihat sikap yang dinilainya berbeda antara ketika masih menjabat dan setelah tidak lagi berada di pemerintahan.

"Ya enggak apa-apa sih daripada enggak bersuara sama sekali kan begitu. Enggak apa-apa saya hanya geli saja," bebernya.

Di akhir pernyataannya, Gus Nur mengklaim selama ini tetap berusaha menyuarakan kritik meskipun bukan pejabat, akademisi, ekonom, maupun pengamat politik.

"Saya hanya mengingatkan bahwa saya alhamdulillah. Doakan saya istiqomah walaupun saya bukan pejabat, saya bukan akademisi, saya bukan ekonom, saya bukan pengamat politik," tandasnya.

"Paling tidak saya adalah salah satu rakyat yang berdaulat yang menyuarakan kebenaran yang tidak korupsi," pungkasnya.