Krisis Kedua: 'Imigrasi' AI

Krisis kedua yang diuraikan Harari ia samakan dengan krisis imigrasi, meski dalam bentuk yang tidak biasa. Di hadapan para pemimpin dunia, ia menggambarkan AI sebagai gelombang baru 'imigran' non-manusia yang masuk ke dalam masyarakat.

Sistem-sistem AI membawa keterampilan luar biasa dan efisiensi tinggi, tetapi sekaligus memicu ketakutan tentang penggantian pekerjaan, loyalitas, dan kendali.

Berbeda dengan imigran manusia, AI tidak menuntut hak, kewarganegaraan, atau representasi politik. Namun, justru karena itulah, kehadirannya dapat mengubah pasar tenaga kerja dan institusi secara diam-diam dan masif.

Bagi pembaca karya-karya Harari, metafora ini terasa akrab. Ia berulang kali menekankan bahwa revolusi teknologi tidak menghancurkan masyarakat dengan sendirinya.

Yang terjadi adalah teknologi menyingkap kelemahan yang sudah ada, dalam tata kelola, etika, dan imajinasi kolektif.

Bahaya terbesarnya, menurut Harari, adalah ketika negara-negara terlalu fokus pada keuntungan jangka pendek AI dan mengabaikan tekanan jangka panjang terhadap kohesi sosial.

Dilihat melalui lensa buku-buku Harari, peringatan di Davos sesungguhnya bukan tentang mesin, melainkan tentang makna. Setiap peradaban disatukan oleh cerita yang mereka yakini bersama. Kini, kecerdasan buatan sedang menulis ulang banyak cerita tersebut.

Apakah cerita-cerita baru itu akan membawa stabilitas atau justru perpecahan tidak akan ditentukan oleh algoritma. Jawabannya bergantung pada seberapa besar kesediaan manusia, dan negara-negara, untuk memikirkan kembali, dari awal, apa arti menjadi manusia di abad ke-21.

Baca Juga: 6 Rekomendasi Buku Karya Yuval Noah Harari, Dijamin Bikin Kamu Lebih Kritis!