Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat signifikan pada perdagangan Rabu (8/4/2026), mencerminkan pembalikan sentimen pasar setelah tekanan yang terjadi pada hari sebelumnya.
Sebelumnya, IHSG ditutup di 6.971,03 dengan rupiah sempat melemah hingga Rp17.100 per dolar AS, mencerminkan sentimen risk-off akibat eskalasi konflik AS–Iran dan lonjakan harga minyak. Sentimen tersebut berbalik setelah pengumuman gencatan senjata dua pekan yang turut mendorong penguatan pasar regional dan meningkatkan aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia.
Baca Juga: Mirae Asset Soroti Tekanan Eksternal di Tengah Melemahnya IHSG Awal April
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai penguatan ini lebih mencerminkan perbaikan sentimen jangka pendek, sementara kondisi fundamental belum banyak berubah. “Gencatan senjata ini memberikan katalis positif dalam jangka pendek, tetapi sifatnya masih sementara. Pasar tetap rentan terhadap perubahan sentimen apabila tidak diikuti de-eskalasi yang lebih berkelanjutan,” ujar Rully Arya Wisnubroto dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Ia menambahkan, pergerakan rupiah dan potensi arus keluar dana asing masih perlu dicermati di tengah tekanan global dan kondisi fiskal yang melebar. “Pergerakan rupiah masih berpotensi berada pada kisaran 16.900 hingga 17.100, sementara risiko capital outflow tetap terbuka,” tambahnya.
Dari sisi teknikal, penguatan IHSG telah menembus resistance sebelumnya di kisaran 7.117–7.222. Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji, menilai kondisi ini merupakan sinyal awal perbaikan tren, meskipun konfirmasi lanjutan masih diperlukan.
“Selama IHSG mampu bertahan di atas area 7.200, peluang penguatan lanjutan tetap terbuka. Namun, potensi koreksi jangka pendek tetap perlu diwaspadai setelah penguatan yang signifikan,” ujar Muhammad Nafan Aji. Ia menambahkan, level support baru berada di kisaran 7.117, sementara resistance berikutnya berada pada area 7.400.
Di tengah penguatan pasar, risiko struktural masih perlu dicermati, termasuk defisit APBN yang meningkat menjadi 0,9% PDB serta ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung. Selain itu, review MSCI pada 12 Mei 2026 diperkirakan akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah aliran dana asing ke pasar domestik.