Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali menyoroti ketimpangan ekonomi global melalui pembaruan data Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita dan Human Development Index (HDI) tahun 2026. Dalam laporan tersebut, Afghanistan menempati posisi sebagai negara termiskin di dunia dengan PDB per kapita hanya 445 dolar AS atau sekitar Rp7 juta per tahun.
Kondisi ini mencerminkan dampak panjang dari konflik berkepanjangan dan ketidakstabilan politik yang menghancurkan infrastruktur serta melemahkan aktivitas ekonomi. Situasi serupa juga terjadi di sejumlah negara lain seperti Yaman, Republik Afrika Tengah, hingga Somalia, yang masih bergulat dengan perang, bencana alam, dan tata kelola yang lemah.
Baca Juga: Rekomendasi 5 Negara Paling Aman untuk Wanita Solo Traveler
Laporan terbaru ini menegaskan bahwa kemiskinan ekstrem bukan sekadar angka statistik, melainkan cerminan dari masalah struktural yang terus berulang. Mulai dari konflik bersenjata, krisis lingkungan, hingga keterbatasan akses terhadap pendidikan dan layanan dasar, menjadi faktor utama yang menghambat pembangunan berkelanjutan.
Daftar 10 Negara Termiskin di Dunia 2026
Berdasarkan data PBB yang juga sejalan dengan proyeksi lembaga internasional seperti International Monetary Fund, berikut daftar negara dengan PDB per kapita terendah:
Posisi kedua ditempati Yaman dengan 493 dolar AS. Perang saudara yang berlangsung selama bertahun-tahun telah melumpuhkan perekonomian dan membatasi akses bantuan kemanusiaan.
Baca Juga: Daftar Tempat Terindah di Dunia 2026, Indonesia Masuk Jajaran Terbaik
Di urutan ketiga, Republik Afrika Tengah mencatat PDB per kapita sebesar 609 dolar AS. Negara ini menghadapi tantangan serius berupa instabilitas politik serta minimnya pengelolaan sumber daya alam.
Selanjutnya, Madagaskar (628 dolar AS) dan Malawi (667 dolar AS) berada di posisi keempat dan kelima. Kedua negara ini terdampak bencana alam berulang, korupsi, serta ketergantungan tinggi pada sektor pertanian yang rentan terhadap perubahan iklim.
Sudan Selatan berada di posisi keenam dengan 683 dolar AS, mencerminkan dampak konflik internal dan krisis kemanusiaan yang berkepanjangan.
Sementara itu, peringkat berikutnya didominasi negara-negara Afrika Sub-Sahara, yakni Burundi (692 dolar AS), Mozambik (692 dolar AS), Eritrea (704 dolar AS), dan Somalia (717 dolar AS). Beragam faktor seperti konflik bersenjata, isolasi internasional, hingga bencana alam terus menjadi penghambat utama pertumbuhan ekonomi di kawasan ini.
Baca Juga: Negara Asia Tenggara Jadi Favorit Wisatawan Indonesia Selama Liburan Idulfitri
Meski demikian, angka-angka tersebut bersifat dinamis dan dapat berubah seiring fluktuasi nilai tukar maupun perkembangan kondisi global.
Tantangan Global dan Upaya Penanggulangan
Fenomena kemiskinan ekstrem di berbagai negara ini menegaskan adanya tantangan global yang kompleks dan saling berkaitan. Tidak hanya menyangkut ekonomi, tetapi juga stabilitas politik, perubahan iklim, hingga ketimpangan akses terhadap sumber daya.
Melalui agenda Sustainable Development Goals, PBB terus mendorong kerja sama lintas negara untuk mengatasi akar permasalahan tersebut. Upaya seperti pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan, serta penguatan sistem ekonomi lokal dinilai menjadi kunci dalam memutus rantai kemiskinan global.
Pada akhirnya, penanganan kemiskinan tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan komitmen kolektif dari komunitas internasional untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan bagi seluruh negara.