Menurut Alexander, terkadang anggota tim terlalu cepat membuat asumsi dan langsung bergerak tanpa memahami cara berpikir pemimpinnya.
Karena itu, bagi seseorang yang ingin berkembang dalam karier, penting untuk belajar memahami perspektif leader.
“Kalau mau karirnya keren, belajarlah untuk lead up. Belajar untuk masuk di kepala leader-mu,” kata Alexander.
Dalam menghadapi situasi sulit, termasuk keputusan organisasi seperti efisiensi atau layoff, Alexander menilai, seorang pemimpin harus menggunakan tiga aspek utama, yaitu IQ, EQ, dan ESQ.
Menurutnya, IQ berkaitan dengan kemampuan mengambil keputusan berdasarkan logika, data, dan perhitungan yang tepat.
“IQ adalah keputusan yang diambil benar secara hitung-hitungan dan logik,” jelasnya.
Namun keputusan yang benar secara angka belum tentu diterima dengan baik jika tidak dikomunikasikan dengan tepat. Di sinilah peran EQ atau kecerdasan emosional.
“EQ adalah cara menyampaikannya,” ujar Alexander.
Sebagai strategic consultant juga, ia memahami bahwa keputusan bisnis terkadang membutuhkan langkah sulit demi keberlangsungan organisasi. Tetapi, seorang pemimpin tidak cukup hanya melihat angka.
Ada aspek yang lebih dalam, yaitu ESQ atau kecerdasan spiritual, yang berkaitan dengan nilai, makna, dan kemanusiaan dalam mengambil keputusan.
“Situasi layoff dan situasi-situasi yang tidak enak lainnya, buat saya sebagai leader pegangannya tiga, yaitu IQ, EQ, dan ESQ,” kata Alexander.
Menurut Alexander, pemimpin yang tangguh bukan hanya mampu membuat keputusan yang benar, tetapi juga mampu mempertimbangkan dampaknya terhadap manusia yang terlibat.
Baca Juga: Leader Tak Harus Disukai Seluruh Anggota Tim