Di tengah dunia kerja yang penuh perubahan, seorang pemimpin tidak lagi hanya dinilai dari kemampuan mengambil keputusan besar atau memberikan arahan. Karyawan kini mencari sosok leader yang autentik, terbuka, dan mampu menunjukkan sisi manusiawinya.

Human Capital Expert yang juga penulis The Pain of Leadership dan pendiri Daily Meaning, Alexander Sriewijono, banyak orang saat ini justru mengharapkan pemimpin yang tampil apa adanya. Seorang leader tidak harus selalu terlihat sempurna atau memiliki semua jawaban.

“Mereka melihat bahwa they expect leader yang apa adanya. Kalau kemudian tidak tahu, belum tahu, ya bilang. Kalau lagi capek, ya bilang,” tutur Alexander, dikutip dari podcast YouTube @roryasyari - @room.4improvement, Minggu (21/6/2026).

Bagi Alexander, keterbukaan seorang pemimpin bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kepercayaan kepada tim.

Ketika leader berani menunjukkan kondisi sebenarnya, anggota tim akan merasa memiliki ruang untuk membantu dan berkontribusi.

“Alasannya menarik, supaya tim juga bisa support,” tambahnya.

Lebih lanjut, Alexander memperkenalkan konsep positive vulnerability, yaitu kemampuan seorang pemimpin untuk jujur, terbuka, dan mengakui keterbatasan tanpa kehilangan wibawa kepemimpinan.

Menurutnya, pemimpin yang terlalu berusaha terlihat kuat justru berisiko menciptakan jarak dengan tim. Sebaliknya, pemimpin yang mampu menunjukkan sisi manusianya dapat membangun hubungan yang lebih kuat dan sehat.

Namun, keterbukaan tetap harus berjalan bersama integritas. Bagi Alexander, kepemimpinan sejati bukan hanya tentang bagaimana seseorang terlihat di depan orang lain, tetapi bagaimana ia tetap melakukan hal yang benar ketika tidak ada yang melihat.

“Kuncinya adalah integritas, melakukan yang benar bahkan saat tak ada yang melihat,” jelasnya.

Dalam proses memimpin, Alexander mengingatkan bahwa tantangan terbesar seorang leader sering kali bukan hanya tekanan dari luar, tetapi juga bagaimana membangun pola pikir tim agar lebih kritis.

Ia menyebutkan sebuah ungkapan menarik, ‘leader sering overthinking karena timnya under thinking’. Karena itu, kata dia, pemimpin perlu mendorong tim untuk berpikir lebih jauh dan berani mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap biasa.

Kemudian, Alexander pun mengajak para leader untuk membangun budaya ‘question the unquestionable. Think the unthinkable’.

Artinya, jangan hanya menerima keadaan apa adanya. Menurutnya, pemimpin dan tim perlu terus bertanya apakah ada hal yang belum dipikirkan? Apakah ada kemungkinan lain yang belum terlihat?

“Ada lagi nggak yang belum kita pikirin?” ujarnya.

Baca Juga: Apa yang Harus Dilakukan Seorang Leader Ketika Harus Memecat Bawahan?

Menurut Alexander, terkadang anggota tim terlalu cepat membuat asumsi dan langsung bergerak tanpa memahami cara berpikir pemimpinnya.

Karena itu, bagi seseorang yang ingin berkembang dalam karier, penting untuk belajar memahami perspektif leader.

“Kalau mau karirnya keren, belajarlah untuk lead up. Belajar untuk masuk di kepala leader-mu,” kata Alexander.

Dalam menghadapi situasi sulit, termasuk keputusan organisasi seperti efisiensi atau layoff, Alexander menilai, seorang pemimpin harus menggunakan tiga aspek utama, yaitu IQ, EQ, dan ESQ.

Menurutnya, IQ berkaitan dengan kemampuan mengambil keputusan berdasarkan logika, data, dan perhitungan yang tepat.

“IQ adalah keputusan yang diambil benar secara hitung-hitungan dan logik,” jelasnya.

Namun keputusan yang benar secara angka belum tentu diterima dengan baik jika tidak dikomunikasikan dengan tepat. Di sinilah peran EQ atau kecerdasan emosional.

“EQ adalah cara menyampaikannya,” ujar Alexander.

Sebagai strategic consultant juga, ia memahami bahwa keputusan bisnis terkadang membutuhkan langkah sulit demi keberlangsungan organisasi. Tetapi, seorang pemimpin tidak cukup hanya melihat angka.

Ada aspek yang lebih dalam, yaitu ESQ atau kecerdasan spiritual, yang berkaitan dengan nilai, makna, dan kemanusiaan dalam mengambil keputusan.

“Situasi layoff dan situasi-situasi yang tidak enak lainnya, buat saya sebagai leader pegangannya tiga, yaitu IQ, EQ, dan ESQ,” kata Alexander.

Menurut Alexander, pemimpin yang tangguh bukan hanya mampu membuat keputusan yang benar, tetapi juga mampu mempertimbangkan dampaknya terhadap manusia yang terlibat.

Baca Juga: Leader Tak Harus Disukai Seluruh Anggota Tim