Guru Besar Universitas Airlangga (UNAIR), Henri Subiakto mengkritik keras kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang mencetus sejumlah lembaga baru macam Koperasi Desa Merah Putih, Sekolah Rakyat hingga yang terbaru adalah Universitas Republik Indonesia (URI). 

Henri mengatakan, seluruh lembaga yang dibangun Prabowo sekarang ini sebetulnya sudah ada sejak puluhan tahun lalu di republik ini, bahkan jumlahnya pun tidak sedikit, ia lantas mempertanyakan urgensi pembentukan lembaga-lembaga baru itu.  Henri mengatakan, kebijakan kepala negara yang membuat berbagai lembaga baru terkesan seperti mendirikan sebuah negara baru di  dalam negara. 

Baca Juga: DPR Desak Polisi Usut Tuntas Kematian Sutrimo Kepala Rumah Tangga Febrie Adriansyah

"Presiden Prabowo kok seperti orang gak sadar, bikin Negara dalam Negara. Di Indonesia sudah ada ribuan Universitas, termasuk ratusan Universitas Negeri, tapi dia masih bikin 10 Universitas Baru. Sudah ribuan Koperasi Unit Desa di seluruh Indonesia, tapi masih bikin ribuan koperasi Baru. Sudah puluhan ribu Sekolah Dasar di seluruh Indonesia, tapi tetap saja bikin Sekolah Baru, Sekolah Rakyat," kata Henri di akun X pribadinya, dilansir  Selasa (27/7/2026).

Mendirikan lembaga baru dengan berbagai dalih, Prabowo kata Henri tampak seperti tak percaya dengan kualitas lembaga-lembaga yang sudah ada. Ketimbang mendirikan instansi baru yang menguras anggaran jumbo, Prabowo seharusnya membenahi dan memperbaiki mutu lembaga yang sudah tersedia. 

"Malah apa yang dilakukan berpotensi melanggar regulasi. Jadi sebenarnya Prabowo itu presiden mana sih?" ucap pakar hukum siber itu.

Yang paling ironis, di balik seluruh kebijakan mendirikan lembaga baru itu Prabowo justru tidak mampu membenahi lembaga negara lainnya dalam hal ini Polri dan Kejaksaan Agung (Kejagung)

Baca Juga: Febri Eks KPK Ngotot Bela Febrie Eks Jampidsus: Bukti Nggak Jelas, Wajar Ada Pertanyaan Ini Kriminalisasi atau Tidak?

"Persoalan persoalan ini tetap saja tidak ada pembaharuan atau perubahan yang baik. Apakah karena mampet di persoalan itu, lalu keinginan pembaruan justru disalurkan pada hal hal baru yang sebenarnya tidak dibutuhkan? Aneh banget cara kerja dan pemikiran Presiden kita satu ini," tandasnya.