Di tengah derasnya arus globalisasi dan penetrasi budaya digital yang kian masif, upaya menjaga identitas budaya Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Namun di balik itu, muncul optimisme baru: generasi muda mulai kembali menoleh pada akar budaya Nusantara sebagai bagian dari jati diri mereka.
Fenomena ini tercermin dalam rangkaian Road to Pagelaran Sabang Merauke 2026: Hanya Indonesia Yang Punya yang digelar di Main Atrium Grand Indonesia. Ajang ini menjadi ruang temu bagi ratusan penari muda dari berbagai penjuru Indonesia melalui program iForte National Dance Competition (NDC) “Inspirasi Diri” serta The Audition – Pagelaran Sabang Merauke.
Melalui panggung ini, kekayaan tari tradisional dipadukan dengan pendekatan modern, menciptakan ekspresi baru yang relevan dengan selera generasi saat ini tanpa meninggalkan nilai budaya yang melekat.
Baca Juga: Pendopo Tampilkan Harmoni Wastra dari Timur Indonesia dalam Pagelaran 'Aku, Wastra, Kisah'
Pagelaran Sabang Merauke sendiri telah digelar sebanyak enam kali sejak 2022 dan berkembang menjadi salah satu pertunjukan budaya kolosal di Indonesia. Pertunjukan ini dikenal menampilkan keberagaman Nusantara melalui perpaduan musik, tari, kostum, hingga narasi cerita dari berbagai daerah.
President Director and CEO iForte dan Protelindo Group menegaskan bahwa pagelaran ini tidak sekadar menjadi tontonan, melainkan juga bagian dari gerakan budaya yang bertujuan memperkuat keterikatan generasi muda terhadap warisan budaya bangsa.
“Kita harus membuat semua masyarakat Indonesia dan generasi muda khususnya fall in love dengan kebudayaannya sendiri,” ujarnya dalam konferensi pers.
Baca Juga: Festival Satu Nusantara: Pagelaran Budaya Terbesar di SCBD Meriahkan Perayaan Hari Kemerdekaan RI
Antusiasme peserta pun terus menunjukkan tren peningkatan. Dalam iForte National Dance Competition, peserta dari berbagai daerah menghadirkan tarian bernuansa Nusantara yang dikemas dengan sentuhan musik pop modern. Sementara itu, dalam The Audition – Pagelaran Sabang Merauke, sebanyak 676 penari mendaftarkan diri untuk mengikuti seleksi ketat.
Dari ratusan peserta tersebut, hanya 50 penari yang berhasil melaju ke tahap grand final. Selanjutnya, akan dipilih 27 penari terbaik yang akan menjalani pelatihan intensif selama tiga bulan di Yogyakarta sebagai bagian dari persiapan menuju panggung utama.
Sutradara Pagelaran Sabang Merauke menekankan bahwa proses audisi tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis, tetapi juga pada pembentukan koneksi antarpeserta dari berbagai latar belakang budaya.
“Ini bukan hanya tentang sekadar audisi. Ada proses di mana mereka belajar untuk saling terkoneksi, selain kemudian mereka juga berkompetisi,” jelasnya.
Pendekatan modern dalam pagelaran ini juga terlihat dari kehadiran lagu “Inspirasi Diri” yang dibawakan oleh Yura Yunita. Lagu tersebut menjadi elemen penting dalam kompetisi tari dan berkembang menjadi medium ekspresi kolektif bagi para peserta.
Menurut Yura, interpretasi ratusan penari terhadap lagunya justru memperkaya makna yang terkandung di dalamnya.
“Aku ngerasa makna lagu ‘Inspirasi Diri’ jadi berkembang jauh lebih luas. Lagu ini bukan hanya jadi milik aku atau tim kreatifnya, tapi jadi milik kita semua yang mendengarkannya,” ujarnya.
Ia juga menilai pesan dalam lagu tersebut sangat dekat dengan perjalanan generasi muda dalam menemukan identitas dan kekuatan diri.
Sementara itu, Raisa Andriana yang terlibat sebagai juri mengaku terkesan dengan kemampuan para penari dalam menyampaikan emosi sekaligus identitas budaya melalui gerak.
“Semua bentuk seni itu bisa kita lihat dan rasakan dari soulnya. Aku ingin melihat kebanggaan mereka terhadap budaya dan tari yang mereka bawakan,” kata Raisa.
Meningkatnya antusiasme publik terhadap Pagelaran Sabang Merauke juga menjadi indikator bahwa seni pertunjukan berbasis budaya mulai mendapatkan tempat lebih luas di tengah masyarakat. Penyelenggara mencatat, pada tahun sebelumnya, puluhan ribu penonton hadir menyaksikan pertunjukan ini.
Bagi penyelenggara, pertumbuhan tersebut tidak hanya dilihat dari sisi jumlah penonton, tetapi juga dari terbentuknya ekosistem budaya yang semakin luas. Ekosistem ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari seniman, penari muda, komunitas, hingga masyarakat umum.
Melalui rangkaian kegiatan ini, Pagelaran Sabang Merauke hadir bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan sebagai ruang edukasi dan regenerasi budaya. Ajang ini membuka peluang bagi generasi muda untuk mengenal, merayakan, sekaligus membangun kembali kedekatan dengan budaya Indonesia.
Di tengah perubahan zaman yang cepat, Pagelaran Sabang Merauke menunjukkan bahwa budaya tidak harus tertinggal oleh modernitas. Sebaliknya, budaya justru dapat terus hidup dan berkembang ketika mampu bertransformasi, berkolaborasi, serta tumbuh bersama generasi muda Indonesia.