Volatilitas yang tinggi selama Semester I-2026 diprediksi akan membawa investasi pada pola new normal. Menurut ASEAN Economist UOB, Enrico Tanuwidjaja, Semester II-2026 telah memasuki new normal, di mana harga minyak dunia akan stabil dengan fluktuasi yang minimum, kestabilan nilai tukar mulai terjadi, optimisme masyarakat kembali tinggi, serta perilaku konsumsi dan investasi mulai kembali terjadi.
"Perang sudah 4 bulan sehingga saat ini sudah mulai memasuki masa new normal. Semenjak krisis, semua langkah yang dilakukan membuahkan hasil. Bond inflow sudah masuk. Bank Indonesia menaikkan suku bunga. Fiskal sedikit direalokasi itu sudah betul. Nah, yang perlu kita lihat selanjutnya adalah protection policy,” kata Enrico dalam UOB Media Literacy "Navigating Market Volatility: Building Portfolio Resilience with ORI030" yang digelar pada Kamis (16/7/2026) di Teras Ramayana, Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta.
Baca Juga: Masuki Semester 2/2026, Pasar Investasi Global Makin Tak Seimbang
Dia menambahkan, di new normal ini, investor asing mulai masuk kembali ke pasar Indonesia, orang-orang mulai mencari yield yang menarik. Arahnya ke obligasi dengan yield di atas 6% dan dijamin negara. Bahkan, BI Rate kemungkinan akan naik tiga kali lagi hingga akhir tahun 2026 menjadi 6,5%.
“Dengan kenaikan BI rate ini akan semakin membuat atraktif untuk berinvestasi di instrumen yang lebih aman. Apalagi, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61%, masih bagus karena di atas pertumbuhan rata-rata dunia. Asia Tenggara tetap menjadi oasis pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,” ucap Enrico.
Head of Deposit & Wealth Management UOB Indonesia, Emillya Soesanto, menambahkan, valuasi pasar saham Indonesia saat ini sudah sangat murah. Secara valuasi sangat menarik apalagi pemerintah sangat menjaga kestabilan mata uang rupiah.
“Kalau melihat apa yang dilakukan regulator, sudah terkoordinasi dengan baik dan respons cepat, yakni ketika BI menaikkan suku bunga BI Rate ke 5,75% dan imbal hasil obligasi stabil. Pada Semester II-2026 ini kita melihat peluang investasi terbuka lebar, khususnya di pasar obligasi ritel dengan imbal hasil obligasi 7%, yakni ORI030 dengan tenor 6 tahun menjadi pilihan. ORI030 sangat cocok untuk profil investor konservatif. Saat ini merupakan kesempatan yang bagus untuk menambah portofolio kita karena imbal hasilnya bagus, keamanan terjamin,” ujar Emiliya.
Emillya menekankan pentingnya menerapkan Risk-First Approach melalui tiga prinsip utama, yaitu be prepared, diversify, dan be strategic. Investor tidak perlu menunggu kondisi pasar ideal karena volatilitas merupakan bagian dari siklus investasi. Selain itu, membangun portofolio yang terdiversifikasi dinilai lebih penting daripada menebak arah pasar, sementara instrumen pendapatan tetap tetap relevan sebagai salah satu komponen strategis dalam menjaga ketahanan portofolio.
ORI030 ditawarkan pemerintah melalui mitra distribusi, termasuk UOB Indonesia, hingga 30 Juli 2026. Melalui kegiatan Media Literacy Circle ini, UOB berharap masyarakat semakin memahami pentingnya membangun portofolio investasi yang seimbang, sesuai profil risiko, serta didukung pemahaman terhadap kondisi ekonomi dan pasar.