Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai bahwa pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir merupakan bagian dari proses penyesuaian terhadap reformasi struktural yang tengah dilakukan di pasar modal Indonesia.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa reformasi tersebut menjadi langkah besar untuk memperkuat pasar modal nasional agar tidak hanya berorientasi pada kondisi domestik, tetapi juga mampu bersaing dan beradaptasi dengan dinamika pasar global.

Baca Juga: Di Balik Angka Pertumbuhan Ekonomi 5,47% pada Kuartal Ketiga 2026

Menurutnya, proses pembenahan tersebut membawa konsekuensi terhadap pergerakan IHSG dalam jangka pendek. Ia mengibaratkan reformasi pasar modal saat ini seperti proses detoksifikasi atau pembersihan untuk mengeluarkan berbagai hal yang dinilai kurang baik dari ekosistem pasar modal.

"Jadi, kalau kita melihat, ditambah dengan reformasi struktural di pasar modal kita, tentu saat ini kita bisa melihat itu adalah konsekuensi logis dari berbagai reformasi yang kita lakukan. Jadi, beberapa waktu yang lalu juga sudah saya sampaikan, ini seperti mungkin kayak detoks gitu, ya. Kalau ngeluarin yang enggak bagus-bagus dan lain-lain mungkin akan tecermin di kondisi IHSG saat ini," tegas Friderica dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Jakarta, Selasa (3/11/2026) lalu.

Baca Juga: OJK Buka Suara Soal Nasabah MNC Bank Alami Gangguan Transaksi dan Sulit Lakukan Penarikan Dana

Selain reformasi domestik, Friderica yang akrab disapa Kiki itu menyebut pergerakan IHSG juga dipengaruhi berbagai sentimen eksternal. Di antaranya dinamika geopolitik global, tekanan inflasi, hingga ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama atau higher for longer. Meski demikian, OJK meminta masyarakat tidak hanya terpaku pada pergerakan indeks saham. Pasalnya, kondisi fundamental perusahaan tercatat atau emiten di pasar modal Indonesia masih menunjukkan kinerja yang positif.

"Tapi kita harus lihat juga fundamentalnya, kalau lihat kinerja emiten itu sangat baik," imbuhnya.

Dari sisi penghimpunan dana, pasar modal domestik juga masih memperlihatkan kinerja yang solid. Hingga Oktober 2026, total penghimpunan dana di pasar modal tercatat mencapai Rp205,77 triliun.

Capaian tersebut berasal dari tujuh penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO), 20 penawaran umum terbatas, 11 penerbitan efek bersifat utang dan sukuk (EBUS), serta 135 penawaran umum berkelanjutan (PUB).

Selain realisasi penghimpunan dana, minat korporasi untuk mencari pendanaan melalui pasar modal juga masih terjaga. Hal ini terlihat dari adanya 25 rencana penawaran umum yang masuk dalam pipeline dengan nilai indikatif sekitar Rp26 triliun.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa di tengah tekanan terhadap IHSG dan berlangsungnya reformasi struktural, pasar modal Indonesia masih memiliki aktivitas pendanaan serta fundamental emiten yang cukup kuat.