3. Segera Cari Pertolongan Medis Meski Gejala Menghilang

Jika seseorang mengalami gejala yang mengarah pada stroke, jangan menunggu sampai keluhan muncul kembali. Segera hubungi layanan ambulans darurat.

Catat waktu pertama kali gejala muncul dan sampaikan informasi tersebut kepada petugas medis. Langkah ini tetap penting meskipun kondisi pasien sudah terlihat normal ketika bantuan tiba.

Dr. Kulkarni menyarankan agar keluarga tidak membuang waktu dengan mencari rumah sakit sendiri apabila bantuan medis dapat segera didatangkan.

Selain itu, pastikan pasien berada dalam posisi nyaman. Hindari memberikan makanan, minuman, maupun obat-obatan sebelum mendapatkan arahan dari tenaga medis profesional.

4. Pemeriksaan Medis untuk Mengetahui Penyebab Mini-Stroke

Pemeriksaan segera diperlukan untuk memastikan apakah gejala yang dialami merupakan TIA, stroke, atau kondisi medis lainnya.

Dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan pencitraan otak dan pembuluh darah, pemantauan irama jantung, serta pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol.

Pemeriksaan tersebut bertujuan menemukan penyebab gangguan aliran darah ke otak sehingga penanganan dapat diberikan secara tepat. Sebab, pengobatan tidak cukup hanya berfokus pada gejala, tetapi juga harus mengatasi faktor pemicunya.

Orang dengan tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, penyakit jantung, maupun kebiasaan merokok memiliki risiko stroke lebih besar. Meski demikian, stroke juga dapat menyerang orang yang tidak memiliki faktor risiko tersebut.

Karena itu, usia muda, tubuh bugar, maupun kondisi kesehatan yang terlihat baik tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan gejala stroke.

Baca Juga: 7 Kebiasaan Buruk Ini Bisa Memicu Stroke di Usia Muda