Growthmates, gejala stroke yang muncul tiba-tiba, tetapi menghilang dalam hitungan menit, kerap dianggap bukan masalah serius. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda transient ischemic attack (TIA) atau yang dikenal sebagai mini-stroke.

Meski kemampuan berbicara, penglihatan, dan kekuatan tubuh kembali normal, kondisi ini tetap membutuhkan penanganan medis segera.

Dikutip dari Times of India, Jumat (6/11/2026), para ahli saraf mengingatkan bahwa hilangnya gejala bukan berarti ancaman stroke telah berakhir. Sebaliknya, TIA dapat menjadi peringatan dini bahwa seseorang berisiko mengalami stroke yang lebih berat dan berpotensi menyebabkan kecacatan permanen.

TIA terjadi ketika aliran darah menuju bagian tertentu di otak terputus sementara. Akibatnya, seseorang dapat mengalami bicara pelo, penglihatan kabur, hingga kelemahan atau mati rasa pada salah satu sisi tubuh.

Gejalanya memang bisa menghilang dalam beberapa menit, tetapi penyebab yang mendasarinya belum tentu teratasi.

"Pulihnya kemampuan berbicara, penglihatan, atau kekuatan fisik secara penuh bukan berarti bahaya telah berlalu," ujar Dr. Sahil Kohli, Direktur Tambahan bidang Neurologi di FMRI, Gurugram.

Risiko yang perlu diwaspadai terutama terjadi dalam 48 jam pertama setelah TIA. Sebuah tinjauan ilmiah yang dipublikasikan di PubMed menemukan bahwa hampir separuh kasus stroke yang terjadi dalam 90 hari setelah TIA muncul dalam dua hari pertama.

Berikut sejumlah hal penting mengenai mini-stroke yang perlu diketahui.

1. Jangan Anggap Gejala yang Hilang Berarti Sudah Sembuh

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap kondisi sudah aman setelah gejala menghilang. Padahal, seseorang tidak dapat memastikan sendiri apakah kejadian tersebut merupakan TIA atau stroke hanya berdasarkan gejala yang dirasakan.

Dr. Aparna Gupta, Direktur Neurologi di ISIC Multispeciality Hospital, mengingatkan bahwa TIA bisa menjadi tanda awal terjadinya stroke.

"Kekhawatiran yang paling serius adalah bahwa TIA bisa menjadi tanda awal terjadinya stroke. Sangat penting untuk segera mendapatkan pemeriksaan medis, meskipun seseorang merasa baik-baik saja setelah beberapa menit," jelasnya.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) juga mengategorikan TIA sebagai kondisi darurat medis. Pemeriksaan sedini mungkin diperlukan untuk mengetahui penyebabnya sekaligus mencegah risiko stroke berikutnya.

2. Kenali Gejala Stroke dengan Metode BE-FAST

Gejala stroke dapat muncul secara mendadak dan memengaruhi keseimbangan, penglihatan, wajah, hingga kemampuan berbicara. Salah satu cara sederhana untuk mengenalinya adalah metode BE-FAST.

  • B: Balance (Keseimbangan): Pusing mendadak, kehilangan keseimbangan, atau kesulitan berjalan.
  • E: Eyes (Mata): Kehilangan penglihatan secara tiba-tiba atau mengalami perubahan penglihatan.
  • F: Face (Wajah): Salah satu sisi wajah terlihat turun atau terkulai.
  • A: Arms (Lengan): Kelemahan atau mati rasa mendadak pada lengan atau kaki, terutama di satu sisi tubuh.
  • S: Speech (Bicara): Bicara pelo, kesulitan berbicara, atau sulit memahami perkataan orang lain.
  • T: Time (Waktu): Segera cari pertolongan medis darurat.

Dr. Aditya Kulkarni, Konsultan Neurologi di Manipal Hospital, Sarjapur Road, menegaskan bahwa penanganan stroke sangat bergantung pada kecepatan waktu.

“Stroke terjadi ketika aliran darah ke otak tersumbat atau pembuluh darah pecah. Sel-sel otak mulai mati dalam hitungan menit; itulah sebabnya saya katakan ‘waktu adalah otak’,” tuturnya.

Baca Juga: Kebiasaan Sehari-hari yang Diam-diam Meningkatkan Risiko Stroke, Jangan Diabaikan