Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meminta agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak diganggu karena dinilai memiliki peran strategis dalam menggerakkan ekonomi desa dan menyerap hasil produksi petani dalam negeri.

Pernyataan tersebut disampaikan Amran usai menghadiri Dialog Swasembada Pangan di Gudang Ramokalisari, Surabaya, Jawa Timur, beberapa hari lalu. Menurutnya, program MBG bukan hanya sekadar program pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas harga pangan nasional.

“Jadi MBG ini jangan diganggu, ini adalah motor penggerak ekonomi di desa,” ujar Amran dikutip Olenka pada Jumat (15/05/2026). 

Baca Juga: Istana: Manfaat MBG Kian Dirasakan Masyarakat

Amran mengatakan, program tersebut diproyeksikan mampu menyerap produk dari sekitar 160 juta petani di Indonesia. Pemerintah pun memanfaatkan program MBG sebagai salah satu cara untuk mengintervensi pasar ketika terjadi kelebihan pasokan komoditas pangan yang memicu anjloknya harga di tingkat produsen.

Salah satu contoh yang disoroti adalah komoditas telur ayam. Kementerian Pertanian telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk meningkatkan frekuensi konsumsi telur dalam menu MBG guna membantu menyerap surplus produksi peternak.

Amran optimistis langkah tersebut dapat mendorong perbaikan harga telur dalam waktu singkat karena program MBG menyasar jutaan penerima manfaat di seluruh Indonesia.

Baca Juga: Melihat Reaksi Prabowo Ketika Anak Orang Kaya Menolak MBG

Selain itu, ia menegaskan pemerintah tetap membuka ruang evaluasi terhadap pelaksanaan program di lapangan. Namun, menurutnya, apabila ditemukan praktik korupsi atau penyimpangan, proses hukum akan tetap dijalankan sesuai ketentuan yang berlaku.

“Itu komitmen Bapak Presiden,” kata Amran.

Amran juga membantah anggapan bahwa program MBG dijalankan demi kepentingan politik jangka pendek. Ia menilai program tersebut merupakan investasi sumber daya manusia dalam jangka panjang, terutama untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia.

Baca Juga: Realisasi Anggaran MBG Tembus Rp70,2 T

“Anak-anak bergizi. Ini investasi jangka panjang. Kalau segi politik itu tidak menguntungkan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Amran turut menyinggung anomali harga pangan yang kerap terjadi di Indonesia, termasuk kondisi ketika stok komoditas melimpah namun harga di pasar domestik tetap tinggi. Ia mencontohkan fenomena minyak goreng yang sempat mengalami kenaikan harga meski Indonesia merupakan produsen sawit terbesar dunia.