Daya beli masyarakat Indonesia mengalami penurunan, terutama untuk kelas menengah dan bawah. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari tingginya angka pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga perang di Timur Tengah yang membuat inflasi semakin tinggi.

Pelemahan daya beli masyarakat tersebut disikapi dengan adanya perubahan perilaku konsumen dalam membelanjakan uang. Managing Partner Inventure, Yuswohady, menilai bahwa dalam kondisi seperti saat ini, masyarakat cenderung memegang prinsip bahwa cashflow is the king sehingga cenderung lebih selektif dalam hal pengeluaran.

"Masyarakat Indonesia kini dalam semakin selektif dalam spending karena cashflow is the king. Mereka harus memastikan tetap memegang uang untuk mengantisipasi barangkali ada keluarga yang sakit atau suami yang kena PHK," jelas Yuswohady kepada Olenka beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Pengamat Celios Bicara Soal Level Psikologis Nilai Tukar Rupiah, Perlu Jadi Perhatian Serius

Ia menambahkan, masyarakat saat ini cenderung membatasi pengeluaran untuk hal-hal yang lebih penting dan kecil. Dengan kata lain, masyarakat lebih menahan pengeluaran yang sifatnya besar seperti membeli kendaraan atau untuk merenovasi rumah. 

"Selain itu ada juga fenomena di mana masyarakat kalau dulu ke supermarket untuk belanja bulanan, sekarang memilih belanja harian atau mingguan. Tujuannya supaya mereka masih punya uang untuk menjaga cashflow," tambahnya lagi.

Lebih lanjut, perubahan perilaku konsumen berikutnya terekam melalui fenomena yang ia sebut sebagai trading down. Dalam hal ini, masyarakat cenderung beralih dari brand atau produk-produk menengah ke brand atau produk yang lebih murah. 

"Konsumen mulanya membeli produk dari brand menengah kemudian turun ke produk dengan brand yang lebih murah dan terjangkau karena kemampuan daya beli mereka berkurang sehingga turun kelas dalam memilih produk dan brand," tegas Yuswohady.

Fenomena berikutnya yang juga ia rekam ialah masyarakat cenderung beralih ke barang konsumsi dengan kemasan lebih kecil (small pack). Hal itu dilakukan untuk menyiasati harga produk yang lebih murah untuk menjaga cashflow

Yuswohady mengatakan, alasan itu pula yang membuat kehadiran 'Warung Madura' menjadi begitu popular dalam beberapa waktu terakhir. Pasalnya, masyarakat bisa membeli barang konsumsi dengan kemasan atau ukuran yang lebih kecil sehingga harganya lebih murah.

"Kalau di Warung Madura itu masyarakat beli minyak setengah liter, seperempat liter bisa gitu, sementara kalau di minimarket tidak bisa karena kemasannya sudah fixed gitu ya," katanya lagi.

Ada pula fenomena soft saving lifestyle di mana masyarakat mengurangi frekuensi dalam membeli produk tertentu untuk menekan pengeluaran, "Misal tadinya sering datang ke kafe atau ke mall kemudian sekarang dikurangi frekuensinya, jadi bukan dihilangkan sama sekali."

"Saya juga melihat muncul di era pelemahan daya beli adalah fenomena deal-driven, artinya mereka beli kalau ada promo gitu ya. Tujuannya karena perlemahan daya beli, maka duit itu langka sehingga melakukan pembelian kalau hanya sedang ada promo," tutupnya.