Kepergian Gary Iskak memang meninggalkan duka mendalam bagi dunia hiburan Tanah Air. Aktor kenamaan tersebut mengembuskan napas terakhir pada Sabtu, 29 November 2025 dini hari, setelah mengalami kecelakaan sepeda motor tunggal di Jalan Kesehatan Raya, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.
Meski telah berpulang, karya-karya Gary Iskak akan selalu dikenang oleh para pecinta film Indonesia. Salah satu karya terakhirnya adalah film ‘Lastri: Arwah Kembang Desa’ yang dijadwalkan tayang pada 16 Juli mendatang. Dalam film tersebut, Gary memerankan karakter Turenggo (atau Turangga), sosok yang memiliki keterkaitan erat dengan berbagai peristiwa mengerikan dan rahasia kelam di desa.
Berikut ini telah Olenka rangkum dari berbagai sumber, Senin (6/7/2026), mengenang mendiang Gary Iskak dan jejak kariernya di industri hiburan Tanah Air.
Profil Gary Iskak
Gary Iskak memiliki nama lengkap Muhammad Gary Iskak. Aktor kelahiran 11 Juli 1974 ini berasal dari keluarga yang lekat dengan dunia hiburan, khususnya seni peran. Ia merupakan putra dari Irwan Iskak dan Winny Sukmawardani, sekaligus kakak dari Khiva Iskak.
Tak hanya itu, Gary juga merupakan keponakan dari aktor dan aktris senior Indonesia era 1960-an, yakni Boy Iskak, Indriati Iskak, dan Alice Iskak.
Dalam kehidupan pribadinya, aktor keturunan Belanda ini pertama kali menikah dengan Shabrina R. Bonita pada 1999. Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai dua anak, yakni Muhammad Azriel Gamitza Iskak dan Rabiya Putrisyah. Namun, rumah tangga mereka berakhir dengan perceraian pada 2008.
Setelah itu, Gary sempat menikah dengan Irma Risma. Pernikahan tersebut juga berakhir di meja perceraian, meski informasi mengenai waktu pernikahan dan perceraiannya tidak banyak diketahui publik.
Gary kemudian menikah dengan pesinetron Richa Novisha pada 2009. Dari pernikahan ini, keduanya dikaruniai dua anak, yakni Adilla Rafisya Iskak dan Taqya Zahra Mikaela Iskak.
Pada 29 November 2025, Gary Iskak meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan sepeda motor tunggal. Ia mengembuskan napas terakhir pada usia 51 tahun.
Perjalanan Karier
Gary Iskak memulai karier aktingnya di layar lebar pada 2000 lewat film Bintang Jatuh. Dalam debutnya tersebut, ia memerankan karakter ayah Shelly. Sejak saat itu, namanya semakin dikenal dan nyaris tak pernah absen menghiasi layar lebar Indonesia.
Sepanjang lebih dari dua dekade berkarier, Gary membintangi puluhan judul film dengan karakter yang beragam. Ia sempat vakum dari layar lebar pada 2008 setelah terseret kasus hukum. Namun, Gary berhasil bangkit dan kembali aktif berakting hingga menjelang akhir hayatnya.
Sejumlah film populer yang pernah dibintanginya antara lain Ada Apa dengan Cinta? (2002), 30 Hari Mencari Cinta (2004), Ungu Violet (2005), Bidadari-Bidadari Surga (2012), Kawin Kontrak 3 (2013), Keluarga Tak Kasat Mata (2017), Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (2020), Ghostbuser: Misteri Desa Penari (2021), Trah 7 (2022), Pesugihan: Bersekutu dengan Iblis (2023), Cinta Tak Seindah Drama Korea (2024), hingga Sarung untuk Bapak dan Maju Serem, Mundur Horor yang dirilis pada 2025.
Film Lastri: Arwah Kembang Desa menjadi karya terakhir Gary Iskak sebelum berpulang. Film yang dijadwalkan tayang pada 16 Juli 2026. Tak hanya aktif di layar lebar, Gary Iskak juga melebarkan kiprahnya ke berbagai format hiburan, mulai dari film pendek, serial televisi, serial web, hingga FTV.
Kariernya di layar kaca dimulai lewat serial Opera SMU pada 2001, kemudian berlanjut dengan membintangi sejumlah judul populer seperti Api Cinta, Putri, Buku Harian Baim, Heart Series 2, ABG Jadi Manten, Pangeran 2, Pesantren Rock N' Dut, hingga Ijabah Cinta yang tayang pada 2024.
Gary juga cukup aktif membintangi serial web. Beberapa judul yang pernah ia bintangi di antaranya Halusinada, Mami Kost, Twisted, World of Dr. Boyke, Juara the Series, Second Account, hingga Generasi D'Bijis yang menjadi salah satu karya terakhirnya.
Selain itu, wajah Gary juga kerap menghiasi berbagai judul FTV sejak pertengahan 2000-an. Ia membintangi puluhan FTV, mulai dari serial Hidayah, Dongeng, Kisah Nyata, Pintu Berkah, Sinema Indosiar, hingga Suratan Ilahi.
Nominasi & Penghargaan
Kiprah Gary Iskak di dunia akting juga mendapat apresiasi dari berbagai ajang penghargaan bergengsi. Pada 2007, ia berhasil meraih penghargaan Best Actor for Leading Role di Indonesia Film Critics Circle Awards berkat perannya dalam film Merah itu Cinta. Di ajang yang sama, ia juga masuk nominasi Best Actor for Supporting Role lewat film D'Bijis.
Masih di tahun yang sama, Gary menerima nominasi Pemeran Pendukung Pria Terbaik di Festival Film Indonesia, serta nominasi Most Favourite Actor di MTV Indonesia Movie Awards. Prestasinya berlanjut di Indonesian Movie Actors Awards 2007, di mana ia berhasil membawa pulang penghargaan Pemeran Pendukung Pria Terbaik dan kembali masuk nominasi Pemeran Pendukung Pria Terfavorit.
Tak hanya itu, pada 2016 Gary Iskak juga masuk nominasi Aktor Pendamping Paling Ngetop dalam SCTV Awards berkat perannya di sinetron Pangeran 2.
Meski telah berpulang, jejak karya dan peran-peran yang pernah ia hadirkan akan terus dikenang, menjadikan nama Gary Iskak tetap hidup di hati para penikmat film dan sinetron Indonesia.