Penikmat rokok pasti tidak asing dengan slogan berikut, “Pria Punya Selera”. Slogan tersebut dikenal luas oleh masyarakat Indonesia dan berasal dari sebuah merek rokok ternama Gudang Garam. Gambar gedung penyimpanan garam beratap segitiga yang berada di depan rel kereta sangat ikonik dan begitu melekat dengan nama Gudang Garam.

Tidak hanya itu, kemasan kalengan milik Gudang Garam juga mudah dikenali bahkan menjadi suvenir di rumah-rumah masyarakat. Sebagian tetap menyimpannya di rumah untuk diisi ulang, sebagian lainnya memanfaatkan kaleng tersebut untuk menyimpan barang lainnya. Sebuah kebiasaan yang sangat menggambarkan kebiasaan masyarakat Indonesia.

Baca Juga: Mengenal Sosok Rachman Halim, Penerus Bisnis Gudang Garam yang Dicintai

Berkenalan dengan Surya Wonowidjojo

Meski familier dengan Gudang Garam, masyarakat Indonesia mungkin cukup asing dengan nama Surya Wonowidjojo. Padahal, dialah sosok di balik lahirnya nama Gudang Garam beserta logo ikoniknya.

Pria bernama asli Tjoa Jien Hwie ikut merantau bersama keluarganya di usia 3 tahun. Di masa tersebut, banyak pendatang China datang ke berbagai daerah di Indonesia untuk mencari peruntungan. Surya bersama keluarganya menetap di Sampang, Madura dan mendirikan toko kelontong untuk bertahan hidup.

Surya kemudian pindah ke Kediri untuk bekerja dengan pamannya, pemilik kretek merek Cap 93. Hal itu dilakukan Surya setelah sang ayah meninggal dunia. Disebutkan, dia mulai bekerja di Cap 93 sekitar tahun 1950 dan dikenal ulet serta pekerja yang cerdas.

Saat bisnis Cap 93 mulai naik, terjadi perselisihan antara Surya Wonowidjojo dengan pamannya. Ada yang bilang sang paman tidak setuju dengan ide ekspansi lainnya, lainnya menyebutkan bahwa sang paman enggan membagi saham perusahaan kepada Surya. Apapun alasannya, Surya Wonowidjojo resmi keluar dari bisnis rokok Cap 93 di tahun 1956 lantas membangun bisnis rokoknya sendiri.

Ide di Balik Nama Gudang Garam

Bersama sejumlah pegawai yang direkrutnya dari mantan pekerja Cap 93 (disebutkan hingga 50 orang), Surya mulai memproduksi rokok skala rumahan dengan merek Inghwe. Perusahaan Rokok Tjap Gudang Garam baru resmi berdiri pada 26 Juni 1958 di kota Kediri, Jawa Timur dengan produk pertamanya ialah Gudang Garam Kuning.

Gudang Garam diambil dari mimpi Surya yang memandangi gudang tempat menimbun garam. Gudang tersebut terletak di depan rel kereta, beratap segitiga, dan memiliki pintu yang terbuka. Dibantu karyawannya, nama serta logo perusahaan rokok yang akan dibangun Surya akhirnya terbentuk.

Dari sanalah perjalanan Gudang Garam sebagai salah satu perusahaan rokok besar di Indonesia dimulai. Surya Wonowidjojo tutup usia pada 29 Agustus 1985 lalu bisnisnya dilanjutkan sang anak, Susilo Wonowidjojo.