Aurelie Moeremans dikenal sebagai salah satu aktris berdarah Belgia–Indonesia yang konsisten menapaki industri hiburan Tanah Air sejak usia belia. Tak hanya berkiprah di layar kaca dan layar lebar, Aurelie juga memperluas perannya sebagai penulis melalui buku memoar Broken Strings yang merekam perjalanan personalnya sekaligus pesan edukatif bagi publik.
Aurélie Moeremans lahir pada 8 Agustus 1993 di Brussel, Belgia. Latar belakang budaya yang beragam membentuk karakternya sebagai figur publik dengan perspektif unik. Pesonanya di dunia hiburan Indonesia tidak datang secara instan, melainkan melalui rangkaian peristiwa tak terduga yang mengantarkannya ke panggung nasional.
Awal perjumpaan Aurelie dengan dunia hiburan terjadi saat ia berlibur ke Bandung pada usia 13 tahun. Kala itu, ia sempat berniat mengisi waktu dengan mengikuti sekolah modeling. Namun, rencana tersebut urung karena program yang ditawarkan mengharuskannya mengikuti kelas paket selama dua bulan, sementara ia hanya berada di Bandung selama sepekan.
Baca Juga: Mengenal Sosok Eka Julianta Wahjoepramono, Dokter yang Mempelopori Bedah Batang Otak di Indonesia
Di saat hendak meninggalkan gedung, Aurelie melihat pengumuman ajang bakat Fresh Multitalented 2007. Ia memberanikan diri mengikuti kompetisi tersebut dan tampil menyanyikan lagu berbahasa asing di hadapan para juri.
Tak disangka, keputusan spontan itu berbuah manis. Aurelie keluar sebagai juara pertama dan meraih kontrak yang membawanya menapaki dunia hiburan Indonesia, termasuk kesempatan casting di Jakarta, meski kala itu ia belum fasih berbahasa Indonesia.
Baca Juga: Profil Enzy Storia, Intip Perjalanan Karier Sang Aktris Serba Bisa!
Demi menekuni kariernya, Aurelie memutuskan pindah dan menetap di Indonesia. Ia melanjutkan pendidikan melalui homeschooling sembari fokus mengembangkan kemampuan akting. Pada usia 14 tahun, Aurelie resmi memulai karier profesionalnya sebagai aktris.
Tahun 2008 menjadi langkah awal Aurelie di dunia seni peran lewat sinetron Hitam Putih. Ia berperan sebagai adik dari karakter yang dimainkan Ricky Harun. Proyek ini menjadi pengalaman penting, tidak hanya untuk mengasah kemampuan akting, tetapi juga mempercepat penguasaannya terhadap bahasa Indonesia.
Kariernya kian menanjak pada 2009 setelah membintangi sinetron Cinta Puteri. Popularitas yang meningkat membuka pintu ke dunia periklanan. Aurelie dipercaya menjadi bintang iklan berbagai merek internasional seperti Levi’s, Puma, dan Guess. Dalam sebuah talk podcast, ia sempat mengungkapkan bahwa bermain iklan terasa lebih ringan dibandingkan sinetron karena tidak menuntut hafalan dialog panjang.
Baca Juga: Profil Joanna Alexandra, Ini Dia Perjalanan Karier Sang Aktris dari Model hingga Bintang Film
Nama Aurelie semakin dikenal publik melalui sejumlah sinetron populer, antara lain Putri yang Ditukar (2011) dan Cinta di Langit Taj Mahal (2015), yang mengukuhkan posisinya sebagai aktris sinetron papan atas.
Tak berhenti di layar kaca, Aurelie juga membangun portofolio kuat di dunia perfilman. Sejumlah film awal seperti JINX, D’Love, dan Sweetheart menjadi pijakan menuju proyek layar lebar yang lebih besar. Ia kemudian terlibat dalam berbagai judul film, di antaranya Catatan Dodol Dokter (2016), Mau Jadi Apa? (2017), Kuntilanak (2018), Menunggu Pagi (2018), Foxtrot Six (2019), Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2, Story of Dinda (2021), hingga Baby Blues (2022).
Baca Juga: Deretan Film Indonesia yang Pemeran Utamanya Komika
Kemampuan Aurelie beradaptasi dengan beragam karakter dan genre memperkuat reputasinya sebagai aktris berbakat yang sukses berkarier di Indonesia meski berasal dari latar budaya berbeda.
Pada 10 Oktober 2025, Aurelie memperluas kiprahnya di luar dunia akting dengan merilis buku memoar berjudul Broken Strings. Dalam buku tersebut, ia secara terbuka mengisahkan pengalaman pahitnya sebagai korban child grooming. Versi e-book buku ini dirilis pada Januari 2026 dan dibagikan melalui tautan Google Drive di akun Instagram pribadinya.
Baca Juga: Berkenalan dengan Faradina Mufti, Intip Perjalanan Karier Sang Aktris dari Finalis Gadis Sampul
Langkah ini diambil sebagai upaya edukasi, khususnya bagi perempuan dan para ibu, agar lebih waspada, mampu menjaga diri, serta melindungi anak-anak dari kekerasan dan eksploitasi.