Husain Djojonegoro adalah sosok pengusaha sukses di balik kejayaan brand ABC dan Orang Tua Group. Ia jadi salah satu pengusaha terkaya yang masuk daftar 50 orang terkaya Indonesia 2024 versi Forbes.

Meski pendidikan Husain di masa muda sempat berantakan, namun ia berhasil membangun kerajaan bisnis yang menggurita di berbagai sektor.

Perusahaan keluarga Husain, pada awalnya dikenal dengan produk anggur kolesom cap Orang Tua. Perusahaan tersebut menjadi salah satu konglomerasi ternama di Indonesia yang berada di bawah kepemilikan Keluarga Djojonegoro.

Saat ini, bisnis tersebut dipimpin oleh dirinya serta kedua adiknya, yakni Hamid dan Pudjiono Djojonegoro

Lantas, bagaimana kisah hidup Husain Djojonegoro hingga kini berhasil meroket bersama ABC dan Orang Tua Group? Berikut Olenka rangkum profilnya, sebagaimana dikutip dari berbagai sumber, Kamis (20/3/2025).

Latar Belakang

Husain Djojonegoro atau Chu Kok Seng merupakan putra dari Chandra Djojonegoro. Ia lahir di Semarang, Jawa Tengah pada November 1949.

Ayahnya merupakan pengusaha yang merintis perusahaan produsen minuman anggur tradisional Cap Orang Tua bersama dengan pamannya. Perusahaan itulah yang menjadi cikal bakal Orang Tua Group dan ABC.

Meski berasal dari keluarga pengusaha, masa pendidikan yang ditempuh Husain bisa dibilang cukup berantakan. Namun, Ia berhasil menamatkan pendidikan hingga Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMA).

Husain pernah memiliki pengalaman awal yang berbeda dalam karirnya. Pada suatu masa, Husein bekerja sebagai seorang sales di sebuah pabrik sandal.Husain sempat menolong ayah dan pamannya menjual anggur tradisional di tahun 1948, sebuah perusahan lain yang mereka dirikan.

Ternyata seiring berjalannya waktu, bisnis yang ditekuni itu berkembang menjadi perusahaan ABC yang kini kita kenal sebagai perusahaan besar di Tanah Air.

Melihat perkembangan anaknya dan bakat bisnisnya, Chandra menunjuk Husain sebagai direktur di PT International Chemical Industrial Co. Ltd, sebuah perusahaan yang memproduksi batu baterai merek ABC, yang didirikan pada tahun 1959.

Perusahaan itu bergerak dalam bidang produksi batu baterai bermerek ABC. Seiring dengan berjalannya waktu, Husain mampu membawa perusahaan tersebut tumbuh membesar.

Baca Juga: Mengenal Sosok Anderson Tanoto, Si Bontot Penerus Royal Golden Eagle

Milestone Bisnis

Selang menjadi direktur di perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi batu baterai bermerek ABC, Husain mampu membawa perusahaan tersebut tumbuh membesar.

Pada 1969 misalnya, perusahaan berhasil menambah pabrik kedua di Jakarta dan pada 1982, pabrik ketiga di Surabaya. Secara kolektif, pabrik-pabrik ini memiliki total kapasitas produksi 1,8 miliar per tahun.

Tak puas hanya dengan bisnis baterai, Husain Djojonegoro mulai berekspansi ke industri makanan dan minuman. Pada tahun 1973, ia mengakuisisi 31% saham PT Uni Djaja di Medan.

Di bawah kepemimpinan Husain, perusahaan pun melakukan ekspansi dengan membangun pabrik kedua di Jakarta pada tahun 1969. Kemudian pada tahun 1982, dibangunlah pabrik ketiga di Surabaya. Tercatat total kapasitas produksi dari keseluruhan pabrik mencapai 1,8 miliar per tahun.

Dikutip dari CNNIndonesia, pada 1973, perusahaannya makin agresif dengan mengakuisisi kepemilikan 31 persen saham PT Uni Djaja yang merupakan produsen kamput di Medan. Langkah itu berlanjut.

Pada 1974, perusahaannya memperluas cakupan usaha ke sektor makanan dengan mendirikan CV Central Foods Industrial Corporation atau Central Food.

Pada masa awal usaha, perusahaan ini mengembangkan produk unggulan kecap. Menggunakan brand ABC yang sudah tertanam dalam pikiran masyarakat, perusahaan mengembangkan kecap bermerek ABC dengan varian manis, asin dan sedang.

Tak berhenti sampai di situ, perusahaan melebarkan produksi mereka ke Sirup ABC, Saus Tomat ABC dan sambal ABC. Pelebaran pangsa pasar ini membuat perusahaan semakin berkibar.

Seperti yang dilansir dari studentpreneur.id, Group ABC di bawah tangan dingin Husain Djojonegoro juga melayani permintaan produksi luar negeri dengan sistem tol manufacturing atau memproduksi dengan nama merek sesuai yang diminta oleh mitranya di luar negeri.Melalui pasar ekspor inilah, ia berhasil menyumbang sekitar 40% pendapatan perusahaan ABC Group.

Di tahun 1978, ABC Group melakukan kerja sama dengan PT Ancol Terang Printing sebagai usaha dalam memperluas pasar ekspor. Perusahaan tersebut bergerak dalam bidang kemasan kaleng di mana Husain Djojonegoro sendiri memiliki kepemilikan saham sebesar 40% di dalamnya.

Kemudian pada 1980, produk ABC, seperti sirup maupun sambal ABC mulai merajai pasar Indonesia. Tak hanya itu, produk-produk itu kemudian diekspor ke Amerika, Kanada, Australia, Singapura, Timor Leste dan sejumlah negara lainnya.

Belum puas dengan bidang makanan, melalui anak perusahaan ABC, yaitu Orang Tua Group, Husain juga memproduksi sikat gigi dengan merk Formula. Produk-produknya pun telah diekspor ke berbagai penjuru negeri, seperti Amerika Serikat, Australia, Kanada, dan sebagainya. Sukses di situ, cakupan bisnis kelompok usaha ABC dan Orang Tua terus menggurita ke mana-mana.

Pada 1983, perusahaan membangun perusahaan produsen pembalut wanita bermerek Innosense, Honeysoft dan Modess untuk PT Johnson & Johnson Indonesia.

Setelah Chandra Djojonegoro dan Chu Sok Sam meninggal pada akhir tahun 1980-an, bisnis keluarga yang dijalankan oleh Husain Djojonegoro semakin berkembang pesat.

Kekayaan

Sebagai pemilik ABC dan Orang Tua Group, Husain Djojonegoro masih masuk dalam jajaran orang terkaya di Indonesia.

Forbes mencatat hingga akhir tahun 2024, kekayaannya mencapai U$1,33 miliar atau sekitar Rp21,5 triliun. Total kekayaan tersebut menjadikan mereka masuk dalam daftar 50 keluarga terkaya di Indonesia pada 2024.

Kekayaan Husain tersebut diketahui berasal dari bisnis yang dikelolanya bersama dengan keluarga, yakni grup Orang Tua dan juga grup ABC.

Hingga saat ini, produk-produk yang diproduksi baik dari grup Orang Tua dan ABC sudah cukup menggurita, bahkan hingga mancanegara, di mana ekspor produk ABC berkontribusi sekitar 40% dari total pendapatan grup, menjangkau berbagai negara, termasuk Amerika, Kanada, Australia, dan lainnya.

Baca Juga: Mengenal Sosok Haji Isam, Konglomerat Asal Kalimantan yang Punya Gurita Bisnis