Terobosan Dunia
Dikutip dari Merdeka.com, tonggak sejarah Prof. Eka terjadi pada 20 Februari 2001. Seorang buruh nelayan muda bernama Ardiansyah datang dalam kondisi kritis akibat tumor kavernoma pecah di batang otak (pons).
Pada masa itu, batang otak dianggap no man’s land dalam dunia bedah saraf karena risiko kematian dan kelumpuhan permanen yang sangat tinggi.
Namun, didorong oleh rasa kemanusiaan dan keberanian ilmiah, Prof. Eka mengambil keputusan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Operasi tersebut berhasil.
Dikutip dari Merdeka.com, ia tercatat sebagai dokter pertama di Indonesia, bahkan dunia, yang berhasil melakukan pembedahan batang otak, sebuah pencapaian yang kemudian dianugerahi penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI).
Keberhasilan serupa juga ia lakukan pada pasien lain, seperti Jumiati, seorang perempuan dari keluarga kurang mampu. Kedua operasi tersebut dilakukan secara cuma-cuma di RS Siloam sebagai wujud pengabdian kemanusiaan.
Keahlian Klinis dan Kepemimpinan Medis
Dikutip dari laman resmi Siloam Hospital, hingga saat ini, Prof. Eka tercatat sebagai dokter subspesialis bedah saraf neurovaskular.
Ia menangani berbagai kasus kompleks, mulai dari stroke, aneurisma otak, tumor otak, malformasi arteri vena, hingga gangguan tulang belakang.
Prosedur yang ia kuasai mencakup kraniotomi, pembedahan otak sadar, coiling dan stenting pembuluh darah otak, hingga teknik mutakhir seperti endoscopic endonasal transsphenoid surgery.
Di luar ruang operasi, dikutip dari Media Indonesia, Siloam Hospitals Karawaci di bawah supervisinya ditetapkan sebagai postgraduate training center oleh World Federation of Neurosurgical Societies, menjadikan Indonesia salah satu dari hanya 16 pusat rujukan bedah saraf dunia.
Prestasi dan Pengakuan Internasional
Dikutip dari londonspeakerbureauasia.com, Prof. Eka dikenal sebagai ahli bedah saraf pertama di Asia Tenggara yang berhasil mengoperasi batang otak.
Bersama timnya, ia telah melakukan lebih dari 50 operasi serupa dengan angka kematian nihil dan efek samping minimal.
Ia juga tercatat sebagai pendiri Yayasan Otak Indonesia, pendiri World Academy of Neurological Surgeons, serta Duta Besar World Federation of Neurological Rehabilitation.
Tips Kesehatan ala Prof. Eka
Dikutip dari Tribunnews.com, meski bekerja hingga 17–18 jam sehari, Prof. Eka tetap bugar. Ia tidak menjadwalkan olahraga khusus, tetapi memilih aktivitas sederhana seperti naik-turun tangga dan berenang di akhir pekan.
Untuk kesehatan otak, Prof. Eka pun kerap menekankan pentingnya pasokan oksigen, gula, kolesterol yang terkontrol, serta terus menggunakan otak melalui membaca, berpikir, dan berdiskusi.
Baca Juga: Mengenang Sosok Maria Emilia Thomas, Dokter Perempuan Pertama di Indonesia