Jika mendengar nama Prof. Dr. Dr. dr. Eka Julianta Wahjoepramono, Sp.BS(K), Ph.D, yang terlintas bukan sekadar sosok dokter bedah saraf, melainkan seorang pelopor yang berani menembus batas paling berisiko dalam dunia medis.

Ia dikenal sebagai dokter pertama di Indonesia, bahkan Asia Tenggara, yang berhasil melakukan pembedahan batang otak, wilayah vital yang selama puluhan tahun dianggap sebagai ‘daerah terlarang’ karena kesalahan sekecil apa pun dapat berujung pada kematian atau kelumpuhan permanen.

Keberanian ilmiah itu tidak berhenti pada satu operasi bersejarah. Bersama timnya, Prof. Eka telah melakukan puluhan pembedahan batang otak dengan tingkat keberhasilan tinggi, menjadikan Indonesia diperhitungkan dalam peta global kedokteran saraf.

Dikutip dari laman londonspeakerbureauasia.com, sejak operasi perdana yang menyelamatkan nyawa seorang buruh hingga kini, ia telah menjalankan lebih dari 50 prosedur serupa tanpa insiden kematian dan dengan efek samping yang sangat minimal.

Di luar ruang operasi, kepeloporan tersebut diterjemahkannya melalui pendirian Yayasan Otak Indonesia sebagai wujud kepedulian sosial.

Dan, dikutip dari berbagai sumber, Senin (5/1/2026), berikut Olenka ulas profil singkat Prof. Eka selengkapnya.

Latar Belakang Keluarga dan Kehidupan Pribadi

Prof. Dr. Dr. dr. Eka Julianta Wahjoepramono, Sp.BS(K), PhD., adalah sosok yang namanya tercatat dalam sejarah kedokteran dunia sebagai dokter bedah saraf terkemuka sekaligus guru besar.

Dikutip dari Wikipedia, Prof. Eka lahir di Klaten, Jawa Tengah, pada 27 Juli 1958 dengan nama Tjioe Tjay Kian. Terlahir dari keluarga sederhana keturunan Tionghoa yang hidup serba terbatas, perjalanan hidupnya sejak kecil telah ditempa oleh kerja keras, ketekunan, dan keberanian menghadapi keadaan.

Dikutip dari buku Tinta Emas di Kanvas Dunia – Jejak Langkah Ahli Bedah Syaraf DR. Eka Julianta Wahjoepramono karya Pitan Daslani, Prof. Eka merupakan anak sulung dari lima bersaudara.

Sejak kecil, ia terbiasa memikul tanggung jawab besar yakni membantu ibunya menjaga warung, mengawasi adik-adiknya, hingga berjualan penganan buatan rumah di sekolah.

Orang tuanya bahkan sempat menumpang tinggal di rumah keluarga lain, sebuah kondisi yang menanamkan nilai kesederhanaan dan daya juang yang kuat dalam dirinya.

Dalam kehidupan pribadi, dikutip dari civitasbook.com, Prof. Eka menikah dengan dr. Hannah Kiaty Taty Damar, Sp.KK.

Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai tiga orang anak, yaitu Petra Octavian Perdana Wahjoepramono, Nicolaus Novian Dwiya Wahjoepramono, dan Graciella Noviana Triya Wahjoepramono.

Menariknya, ketiga anaknya pun memilih jalur pendidikan kedokteran, mencerminkan nilai pengabdian dan kecintaan pada dunia medis yang tumbuh kuat di lingkungan keluarga.

Jejak Pendidikan

Masih dikutip dari buku Tinta Emas di Kanvas Dunia – Jejak Langkah Ahli Bedah Syaraf DR. Eka Julianta Wahjoepramono karya Pitan Daslani, masa sekolah Prof. Eka sepenuhnya dihabiskan di Klaten, dari SD hingga SMA.

Keinginannya melanjutkan pendidikan ke SMA De Britto Yogyakarta kandas karena keterbatasan kemampuan bahasa Inggris. Setelah lulus SMA, jalan menuju Fakultas Kedokteran pun tidak mudah.

Ia sempat gagal masuk Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, dan ITB. Harapan baru muncul ketika ia diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang, berkat dukungan finansial sang pakde.

Kemudian, dikutip dari laman resmi Siloam Hospital, setelah menamatkan pendidikan kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang, jejak akademik Prof. Eka pun berlanjut ke Pendidikan Dokter Spesialis Bedah Saraf di Universitas Padjadjaran, Bandung, yang diselesaikannya pada 1994.

Dedikasinya terhadap pengembangan ilmu kemudian membawanya menempuh Program Doktoral Ilmu Kedokteran di Universitas Hasanuddin, Makassar, pada 2009, disusul Program Doktoral Ilmu Hukum di Universitas Pelita Harapan, Tangerang, pada 2010, hingga akhirnya meraih gelar Doktor Filosofi dari Edith Cowan University (ECU), Joondalup, Australia, pada 2012. Yang membanggakan, seluruh gelar doktor tersebut diraih Eka dengan predikat cum laude.

Awal Karier

Masih dikutip dari buku Tinta Emas di Kanvas Dunia – Jejak Langkah Ahli Bedah Syaraf DR. Eka Julianta Wahjoepramono karya Pitan Daslani, setelah lulus sebagai dokter, Prof. Eka memilih jalur pengabdian berat dengan bertugas di Puskesmas Pendahara, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.

Pengalaman ini membentuk ketangguhan mental sekaligus kepekaan sosialnya. Sekembalinya ke Jawa, ia bekerja di RS Panti Wilasa Semarang dan mulai terlibat dalam operasi besar, yang semakin meneguhkan tekadnya menjadi ahli bedah saraf.

Masih dikutip dari laman resmi Siloam Hospital, Prof. Eka tercatat aktif dalam kepemimpinan organisasi bedah saraf di tingkat regional dan internasional. Ia mengawali kiprahnya dengan menjabat sebagai Ketua Asian Congress of Neurosurgery (ACNS) pada periode 2003–2004.

Tak lama berselang, dikutip dari Alodokter, pada 2006 ia dipercaya sebagai Honorary President 6th Asian Conference of Neurosurgical Surgeon (ACNS). Peran kepemimpinannya kemudian berlanjut ketika ia menjabat sebagai Ketua Asian Oceanean Skull Base Society (AOSBS) pada periode 2008–2010.

Sejak 2010 hingga kini, ia pun mengemban amanah sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan, berperan penting dalam pendidikan dan pembinaan dokter muda.

Memasuki dekade berikutnya, kiprahnya semakin meluas dengan mendirikan Indonesia Brain Foundation pada 2020 serta menjabat sebagai Ketua Neuroscience Center Siloam Hospital hingga sekarang.

Baca Juga: Mengenal Sosok dan Kiprah Panjang Dokter Ario Soeryo Kuncoro di Dunia Kardiologi Indonesia